Kamis, 06 Februari 2014

CINTA RASULULLAH KEPADA UMATNYA



1
Rasulullah pagi itu sibuk memperhatikan bajunya dengan cermat. baju satu-satunya dan itu pun ternyata sudah usang. Baju yang setia menutup aurat beliau. Meringankan tubuh beliau dari terik matahari dan dinginnya udara. Baju yang tidak pernah beristirahat.

Nabi yang kita cintai, hamba kesayangan Allah pergi ke pasar dengan sedikit uang. Tetapi nabi Muhammad dengan ridha pergi ke pasar berbekal uang delapan dirham untuk berbelanja. Manusia penuh nur dan insyah Allah yang dilahirkan di Makkah. Meskipun beliau miskin, beliau senang sekali hidup. Beliau belum ingin mati meski kemiskinan menjerat setiap hari.

Di tengah perjalanan menuju pasar, beliau menemukan seorang wanita yang menangis. Ternyata wanita yang kehilangan uang. Segera beliau memberikan uangnya sebanyak dua dirham. Beliau berhenti sejenak untuk menenangkan wanita itu.

Rasulullah bergegas menuju ke pasar yang semakin ramai. Sepanjang lorong pasar banyak sekali masyarakat yang menegur beliau dengan hormat. Selalu menjawab dan memberikan salam yang mengingatkan akan kebesaran Allah semata. Beliau langsung menuju tempat di mana ada barang yang diperlukannya. Dibelinya sepasang baju dengan harga empat dirham. Beliau segera pulang.

Di perjalanan beliau bertemu dengan seorang tua yang telanjang. Orang tersebut dengan iba memohon sepotong baju untuk dipakainya. Rasulullah yang memang pengasih itu tidak tahan melihat. Langsung diberikannya baju yang baru dibeli. Beliau kembali ke pasar untuk membeli baju lagi seharga dua dirham. Tentu saja lebih kasar dan jelek kualitasnya daripada yang empat dirham. Dengan gembira beliau pulang membawa bajunya.

Langkahnya dipercepat karena sengatan matahari yang semakin terik. Juga angin malam yang telah mulai berhembus pelan-pelan. Beliau tidak ingin kemalaman di jalan. Tak lama beliau melangkah ke luar pasar, ditemuinya lagi wanita yang menangis tadi. Wanita itu kelihatan bingung dan sangat gelisah. Rasulullah saw mendekat dan bertanya mengapa. Wanita itu ternyata ketakutan untuk pulang. Dia telah terlambat dari batas waktu, dan takut dimarahi majikannya jika pulang nanti. Rasululah saw langsung menyatakan akan mengantarkannya.

Wanita itu berjalan yang diikuti Rasulullah saw dari belakang. Hatinya tenang karena Rasulullah saw pasti akan melindungi dirinya. Dia yakin majikannya akan memaafkan, karena kepulangan yang diantarkan oleh manusia paling mulia di dunia ini. Bahkan mungkin akan berterima kasih karena pulang membawa kebaikan bersama dengan kedatangan nabi dan rasul mereka. Mereka terus berjalan hingga sampai ke perkampungan kaum Anshari. Kebetulan saat itu yang ada hanyalah para isteri mereka.

Assalamu’alaikum warahmatullah, sapa Rasulullah saw keras. Mereka semuanya diam tak menjawab. Padahal mereka mendengar. Hati mereka diliputi kebahagiaan karena kedatangan Nabi. Mereka menganggap salam Rasulullah saw sebagai berkah dan seperti lebaran saja. Mereka masih ingin mendengarnya lagi. Ketika tak terdengar jawaban, Rasulullah saw memberi salam lagi. Tetap tak terdengar jawaban. Rasulullah saw mengulang untuk yang ketiga kali dengan suara lantang, Assalamu’alaikum warahmatullah. Serentak mereka menjawab.

Rasulullah sangat heran dengan semua itu. Beliau menanyakan pada mereka apa sebabnya. Mereka mengatakan, Tidak ya Rasulullah. Kami sudah mendengar sejak tadi. Kami memang sengaja, kami ingin mendapatkan salam lebih banyak. Rasulullah melanjutkan, Pembantumu ini terlambat pulang dan tidak berani pulang sendirian.

Sekiranya dia harus menerima hukuman, akulah yang akan menerimanya. Ucapan ini sangat mengejutkan mereka. Kasih sayang Nabi begitu murni, budi pekerti yang utama, yang indah tampak dihadapan mereka. Beliau menempuh perjalanan begitu panjang dan jauh hanya untuk mengantarkan seorang budak yang takut dimarahi majikannya. Lagipula hanya karena terlambat pulang. Bahkan memohonkan maaf baginya pula. Sehingga karena harunya, mereka berkata, Kami memaafkan dan bahkan membebaskannya.

Kedatangannya kemari bersama anda karena untuk mengharap ridha Allah semata. Budak itu tak terhingga rasa terima kasihnya. Bersyukur atas karunia Allah swt dan kebebasannya karena dari Rasulullah saw.

Rasulullah saw pulang dengan hati gembira. Telah bebas satu perbudakan dengan mengharap ridha Allah swt sepenuhnya. Beliau juga tak lupa mendoakan para wanita itu agar mendapatkan berkah dari Allah swt. Semoga semua harta dan turunan serta semoga selalu tetap dalam keadaan iman dan islam. Beliau sibuk memikirkan peristiwa sehari tadi.

Hari yang penuh berkah dan karunia Allah swt semata. Akhirnya beliau berujar  belum pernah kutemui berkah angka delapan sebagaimana hari ini. Delapan dirham yang mampu mengamankan seseorang dari ketakutan, dua orang yang membutuhkan serta memerdekakan seorang budak. Bagi seseorang muslim yang memberikan pakaian pada saudara sesama muslim, Allah akan memelihara selama pakaian itu masih melekat.

Postingan kali ini merupakan kelanjutan dari Rinduku Padamu Ya Rasulullah. Kisah kedua yang selalu membuatku menangis ketika mendengar atau membaca Sirah Nabi adalah kisah sakaratul maut beliau. Sebelum ajal menjemut Rasulullah, beliau memang sakit sampai tidak bisa mengimami shalat jamaah di masjid. Hingga pada suatu saat datanglah malaikat maut yang datang bertamu dan bertujuan untuk megambil ruh Rasulullah. Kedatangan tamu tersebut, sebenarnya ditolak oleh Fatimah, tetapi setelah Rasulullah menjelaskan bahwa yang datang adalah malaikat maut, akhirnya Fatimah mempersilahkan masuk
2
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.”Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii!”.  Dan, berakhirlah hidup manusia paling mulia Rasulullah Muhammad saw.

 Kalimat kecintaan beliau terhadap umatnya, hingga beliau menginginkan semua siksa maut ummatnya ditimpakan kepada beliau. Bukan hanya itu, ketika ajal sudah di tenggorokan beliau masih sempat mengucapkan “Ummatii, ummatii, ummatiii!”.

Rinduku Padamu Ya Rasulullah صلى الله عليه وسلم

3
Ketika sangkakala Malaikat Israfil ditiup, maka kiamat pun terjadi. Pada saat itu orang-orang berlari tunggang-langgang karena ketakutan, sampai-sampai wanita yang hamil pun akan melupakan bayi yang dikandungnya. Ketika huru-hara kiamat terjadi, maka setiap makhluk yang ada di bumi akan binasa, bahkan para setan pun mencoba lari dari kejaran malaikat maut, namun malaikat maut dengan mudah mencabut nyawa setan-setan. Ketika semua makhluk sudah binasa, maka yang tersisa hanyalah malaikat. Kemudian Allah akan memerintahkan malaikat maut untuk mencabut nyawa para malaikat seperti Jibril, Israfil, Mikail, malaikat-malaikat penyangga Arsy Allah, dan malaikat-malaikat lainnya. Kemudian Allah akan memerintahkan malaikat maut untuk mencabut nyawanya sendiri. Dengan demikian, hanya Allah satu-satunya Yang Tetap Hidup.

Saat semua makhluk sudah binasa dan keadaan diliputi kehampaan selama beberapa waktu lamanya, kemudian Allah akan menghidupkan Israfil, Mikail, Jibril, dan malaikat-malaikat yang menyangga singgasana Allah. Dia akan memerintahkan Israfil untuk meniup sangkakala sekali lagi untuk memulai penghisaban. Allah mengirim Jibril dan Mikail dengan kunci surga untuk membuka makam dari seorang manusia yang paling mulia di dunia. Jadi mereka datang dengan misi spesial untuk membuka makam Nabi Muhammad S.A.W. di Madinah.

Setelah bangkit dari tidur panjangnya, Rasulullah S.A.W. bertanya “Hari apa ini? Apa yang telah terjadi?”

Jibril A.S. menjawab “Sekarang adalah hari dimana amalan manusia akan dihisab.”

Kalimat berikutnya yang keluar dari bibir Rasulullah S.A.W. adalah “Bagaimana keadaan umatku?”

Subhanallah, dia menanyakan tentang umatnya! Dia tidak menanyakan dirinya, istri, atau anak-anaknya, namun dia bertanya tentang umatnya, karena dia tahu bahwa umat Islam membutuhkannya pada hari itu.

Saudara/saudariku sesama Muslim, apakah kalian mencintai Rasulullah S.A.W.? Karena demi Allah, Rasulullah sungguh mencintai kalian.

Sebagai catatan, ada sebuah hadist yang disabdakan Rasulullah berkenaan dengan kita. Pada suatu hari, Rasulullah sedang duduk bersama para sahabatnya.

Kemudian dia berkata “Aku sangat rindu pada kekasihku.”

Para sahabat berkata “Ya Rasulullah, kami berada disini bersamamu, kau tidak perlu merindukan kami.”

Rasulullah bersabda “Kalian semua kuanggap sebagai sahabat, namun aku rindu dengan kekasihku.”

Mereka bertanya “Siapa kekasihmu?”

Rasulullah bersabda “Orang-orang setelahku, yang tak pernah melihatku tapi beriman kepadaku.”

Kesimpulan dari hadist di atas adalah Rasulullah S.A.W. menganggap kita sebagai kekasihnya. Apakah kita juga mencintainya sebagaimana dia mencintai kita? Karena pada hari penghisaban saudara/saudari Muslim-ku, dia akan menanyakan tentang kita. 

DIKUTIP DARI BERBAGAI SUMBER

Sabtu, 01 Februari 2014

NABI KHIDIR AS

1. Nabi Khidir dengan Rasulullah saw.

Ketika Rasulullah saw sedang berada didalam masjid, beliau mendengar orang berdoa, Ya Allah, tolonglah aku atas apa yang bisa menyelamatkan aku dari apa yang paling kutakuti.
Lalu Rasulullah bersabda, Mengapa orang itu tidak menyertakan pasangan doanya yang seperti ini, Ya Allah berilah kepadaku kerinduan orang-orang shalih yang paling mereka rindukan.
Kemudian Rasulullah saw menyuruh sahabatnya Anas untuk menyampaikan pasangan doa tersebut kepada orang yang sedang berdoa tadi.
Setelah Anas menyampaikan kepada orang tersebut perihal pasangan doa dari Rasulullah saw, maka orang itu berkata, Ya Anas, katakan kepada Rasulullah saw bahwa Allah telah memberi kelebihan karunia kepadanya diatas para nabi seperti kelebihan kepada ummatnya di atas ummat para nabi lain, seperti kelebihan bulan Ramadhan atas bulan-bulan lainnya dan memberi kelebihan hari Jumat atas hari-hari yang lain.
Anas terperanjat pada saat lelaki itu menoleh ke arah Anas, karena yang nampak adalah Khidir as.
Lalu orang itu berdoa, Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan ummat yang dimuliakan ini.
(Riwayat Ibnu Addi dalam Al-Kamil, Thabrani dalam Al Ausath, Ibnu Askir dalam Tarikh Damsyq dan Ibnu Abiddunya dari Anas. Riwayat Hakim dalam Al Mustadrak)

2. Nabi Khidir dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq
Pada waktu wafatnya Rasulullah saw, ketika di tengah-tengah kesedihan para sahabat yang menangis mengelilingi jenazah beliau, tiba-tiba ada seorang laki-laki berjenggot lebat dan bertubuh tegap masuk ke dalam majelis takziah, lalu ia menundukkan kepalanya sambil mencucurkan air mata.
Kemudian segera ia menemui para sahabat Nabi dan berkata, sesungguhnya Allah telah menyediakan balasan pada setiap musibah, pengganti pada setiap yang hilang dan khalifah pada setiap yang tiada. Maka kembalikanlah segalanya kepada Allah dan berharaplah kepada-Nya. Allah telah mempersiapkan segalanya untuk kalian dan ketahuilah bahwasanya yang ditimpa musibah adalah orang yang tidak terpaksa.
Lalu orang itu pergi. Para sahabat saling bertanya siapakah gerangan orang tersebut, tetapi Abu Bakar segera menjawab, dia adalah Khidir, saudara Rasulullah saw.
(Riwayat Baihaqi dari Anas bin Malik)

3. Nabi Khidir dengan Umar bin Khattab

Pada waktu Umar akan menshalati jenazah, tiba-tiba terdengar suara berbisik dari belakang, tunggu saya, wahai Umar....
Maka Umar menunggu dia hingga dia masuk ke dalam shaf dan Umar pun mulai bertakbir. Setelah sholat, Umar mendoakan jenazah tersebut, Ya Allah, Jika Engkau mengadzabnya berarti dia durhaka kepada-Mu, tapi jika Engkau mengampuni dia, maka sesungguhnya dia sangat membutuhkan rahmat-Mu, Ya Allah.
Setelah jenazah dimakamkan, seorang laki-laki memperbaiki tanah kuburannya sambil berkata, beruntunglah kamu, wahai penghuni kubur jika kamu tidak menjadi orang yang mengaku, menyimpan atau menentukan.
Umar kemudian menyuruh untuk memanggilkan orang tersebut, bawalah orang itu kemari, akan kutanyakan tentang shalatnya dan pembicaraannya itu.
Maka seorang lelaki pergi mencarinya, tetapi orang itu sudah tidak ada, kecuali hanya bekas telapak kakinya di tanah yang besarnya kira-kira satu hasta.
Lalu Umar berkata lagi, Demi Allah, dia itu Khidir yang pernah diceritakan oleh Rasulullah kepadaku.
(Riwayat Muhammad bin Munkadir)

4. Nabi Khidir dengan Ali bin Abi Thalib

Pada waktu sahabat Ali ra sedang melakukan thawaf, tiba-tiba dia melihat seorang laki-laki bergantung pada kelambu Kabah sambil berdoa, Ya Tuhan, yang tidak direpotkan oleh sebutan-sebutan, yang elok dan tidak disilapkan oleh permintaan-permintaan yang banyak dan tidak disibukkan oleh pengaduan-pengaduan yang bertubi-tubi, bolehlah aku mencicipi dinginnya ampunan-Mu dan manisnya rahmat-Mu.
Ali ra pun memanggil dan berkata, Wahai hamba Allah, ulangilah perkataanmu itu.
Kata orang itu, Apakah Anda mendengarkanku?.
Ali pun menjawab, Ya.
Lalu orang itu berkata lagi, Demi Khidir yang jiwanya berada didalam genggaman-Nya, siapa-siapa orang yang mengucapkan doa itu pada setiap selesai shalat fardhu maka pasti ia akan mendapatkan ampunan dosa-dosanya dari Allah, sekalipun dosa-dosanya itu laksana bilangan pasir dan seperti butir-butir air hujan atau bagaikan banyaknya daun-daun pepohonan.
(Riwayat Al Khathib dalam tarikh Baghdad dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Abdullah bin Mhraz, dari Yazid bin Ashamm dari Ali bin Abi Thalib)

5. Nabi Khidir dan Ibrahim Al-Khawash

Dalam sebuah perjalanan, Ibrahim merasa kehausan sehingga akhirnya terjatuh pingsan tak sadarkan diri. Tiba-tiba dirasakannya ada percikan air mengenai wajahnya. Setelah dibuka matanya, Ibrahim melihat seorang pemuda tampan menunggang seekor kuda, berpakaian hijau dan bersorban warna kuning.
Kemudian pemuda itu turun dan memberi minum kepada Ibrahim sambil berkata, Naiklah dibelakangku.
Tidak berapa lama kemudian, Ibrahim sudah sampai ke Madinah. Kemudian pemuda itu berkata, turunlah, sampaikan salamku kepada Rasulullah saw, katakanlah kepada beliau bahwa Khidir menyampaikan salam kepadanya.
(Riwayat Nabhani dalam Jami’ Karamatil Auliya)

6. Nabi Khidir dan Abdul Qadir Al-Jailani.

Pada saat Abdul Qadir Al-Jailani pertama kali memasuki kota Baghdad, Khidir datang menemuinya lalu memberi isyarat kepadanya agar dia mematuhi apa yang diperintahkannya kepada Abdul Qadir. Kata Khidir, Duduklah kamu di tempat ini dan janganlah beranjak sedikitpun ingá aku datang kembali kemari.
Maka Abdul Qadir Al-Jailani duduk di tempat itu sampai tiga tahun. Pada tahun pertama, Khidir datang menjenguknya dan berkata, teruskan saja tingla di tempat ini sampai aku datang lagi menjengukmu kesini.
Demikianlah, aku duduk di atas puing-puing reruntuhan kota Madani. Pada tahun pertama Abdul Qadir Al-Jailani tidak makan kecuali rerumputan saja yang dimakan dan tidak pernah minum walaupun hanya seteguk. Pada tahun kedua, Abdul Qadir Al-Jailani tidak makan walaupun rerumputan, tetapi hanya minum air saja selama satu tahun. Dan pada tahun ketiga, makan minum dan tidur pun mampu ditahan dan sama sekali tidak dilakukannya.
Pada suatu malam dan udara sangat dingin laksana salju, Abdul Qadir Al-Jailani mencoba memejamkan mata diatas reruntuhan istana Kaisar Persia di kota itu juga. Anehnya, pada malam itu dia bermimpi keluar mani (ihtilam) sebanyak 40 kali dan setiap kali bermimpi dia segera mandi wajib (mandi janabah / mandi junnub). Maka pada malam itu juga dia mandi junnub sebanyak 40 kali agar tetap dalam keadaan suci. Estela mandi yang terakhir, dia segera bangun dan berdiri melakukan Ibadan supaya tidak tertidur lagi dan agar tidak bermimpi lagi
(Riwayat Abu Suud Al-Haraimi dalam Qalaid Al-Jawahir)

7. Nabi Khidir dengan Abu Bakar Al-Kattani

Abu Bakar Al-Kattani adalah seorang tokoh terkemuka, seorang alim, yang punya kharisma dan kuat bermujahadah. Diantara mujahadahnya yang sulit ditiru oleh orang biasa adalah dia senantiasa dalam keadaan suci dalam satu hari satu malam. Berdiam dibawah kubah Masjidil Haram selama tiga puluh tahun dan tidak pernah tidur.
Pada suatu hari, seorang laki-laki berwibawa masuk melalui pintu Abi Syaibah, lalu mendekatinya dan memberi salam kepadanya sambil berkata, hai, Abu Bakar, mengapa anda tidak pergi ke maqam Ibrahim bersama orang-orang yang saling mendengarkan pelajaran hadits Nabi ?.
Abu Bakar mengangkat kepalanya dan berkata, Wahai guruku, kebanyakan hadits-hadits yang disampaikan mereka itu semuanya tanpa sanad, sedangkan aku dapat menjelaskan dari sini dengan sanad-sanadnya yang panjang.
Laki-laki itu bertanya kembali, Dari siapa anda mendengarnya ?.
Abu Bakar menjawab, Tuhan sendiri yang mengajarkan ke dalam hatiku.
Coba buktikan hal itu kepadaku !” Pinta lelaki itu yang tak lain adalah Nabi Khidir.
Jawab Abu Bakar, Buktinya adalah bahwa kamu tak lain adalah Khidir.
(Riwayat Ibnul Munawwir dalam kitabnya)

Rabu, 15 Januari 2014

Muslimedianews.com ~ 5 S yang dimaksud di sini merupakan Sabar, Syukur, Sholat, Sodakoh, dan Sukses. Kelima pesan ini menurut Habib Naufal bin Muhammad Alaydrus didapat dari Kapolda Jawa Tengah. Sebelum menguraikan tentang 5 S, habib bercerita tentang ulama besar, soleh, dan hebat yang ketika ditanya mengenai gurunya, ia menjawab jika gurunya adalah wangwung. Wangwung ini tidak bisa hidup dari kotoran, jika disemprot minyak wangi ia justru mati.

Ketika ulama tersebut berjalan menuju masjid, ia melihat wangwung yang sedang berjalan di kubah masjid. Wangwung tersebut berusaha jalan menuju kubah masjid, tetapi selalu jatuh meskipun ia mencoba hingga berkali-kali. Ketika iqomah, ulama itupun masuk menuju masjid. Setelah solat dan dzikir, ia kembali melihat ke arah kubah. Saat itu ulama tersebut emlihat wangwungnya sudah ada di puncak kubah. Akhirnya ulama ini berfikir, jika wangwung saja tidak mau menyerah, dia terus berusaha dan sabar untuk sampai ke puncak kubah. Mengapa saya tidak sabar dan gampang menyerah? Sejak itulah sang ulama tidak mengenal kata menyerah. Akhirnya, ia menjadi ulama yang luar biasa, ilmunya luar biasa, dan kesolehannya luar biasa.

Orang yang sabar merupakan orang yang menyadari jika yang dialami merupakan suatu tantangan yang tidak enak, tetapi ia sabar. Sebagai contoh, seorang istri yang sering diringgal suaminya dinas keluar kota dan ia tetap sabar.

Sabar merupakan derajat awal. Agar menjadi enak, ubahlah menjadi syukur. Jika ada orang yang kepalanya tertimpa batu bata dan mengucapkan Alhamdulillah, dialah orang yang syukur. Tetapi jika mengucapkan innalillah, dia masih sabar.

Masih ingat cerita tentang Mbah Mubarid? Ketika sedang naik sepeda beliau ditabrak sepeda motor. Mbah Mubarid dan orang yang menabraknya sama-sama jatuh. Mbah Mubarid bangun lebih dulu, kemudian memegang tangan orang yang menabraknya. Beliau bertanya, “le..koe mau mangkat seko omah niat nabrak aku opo ora?” (Nak, kamu tadi berangkat dari rumah niat menabrak saya atau tidak). Setelah yang ditabrak menjawab “mboten mbah” (tidak mbah), Mbah Mubarid mengatakan “podo, aku yo ra niat njaluk mbok tabrak” (Sama, saya juga tidak niat minta kamu tabrak). Selanjutnya, Mbah Mubarid mengangkat tangan anak muda yang menabraknya dan berucap “Alhamdulillah, yuk mulih” (Alhamdulillah, mari pulang).

Mbah Mubarid bisa ketabrak dan bisa mengucap Alhamdulillah, kira-kira seperti itu mudah atau susah?

Ibu-ibu misalnya, sebagai orang tua kaum ibu memiliki derajat yang lebih tinggi karena susahnya melebihi kaum bapak. Mereka mengalami tiga kesusahan setelah menikah, pertama ketika mengandung, kedua ketika melahirkan, dan ketiga ketika merawat-menyusui hingga usia anak mencapai dua tahun. Itu waktu susah-susah yang luar biasa. Makanya, ibu-ibu pasti susah jika tidak sabar.

Pakailah prinsip ini agar bisa sabar. Dalam sebuah hadis, Rosululloh Muhammad SAW bersabda: barangsiapa dalam urusan dunia melihat yang lebih susah, dalam urusan akherat melihat yang lebih hebat, maka dia akan menjadi orang yang sabar dan syukur. Barang siapa dalam urusan dunia melihat yang lebih sukses, dalam urusan akherat melihat yang lebih rusak, maka dia akan menjadi orang yang tidak akab bisa sabar dan syukur.

Dalam hidup ini harus ada sabar dan syukur, orang yang sabar pasti bisa syukur dan sebaliknya. Oleh karena itu, agar ibu-ibu bisa sabar menghadapi suami, anak, dan masyarakat pakailah pepatah Jawa. Meskipun pendek, tapi maknanya luar biasa. Orang Jawa berkata: seng waras ngalah (yang merasa waras ngalah).Bulan Ramadhan merupakan lahan yang luar biasa untuk latihan sabar tingkat tinggi. Sesuatu yang tadinya boleh di bulan Ramadhan jadi tidak boleh setelah masuk waktu subuh. Bisa tidak kita sabar? Dan sabar itu ukurannya bukan sikap kita terhadap lawan atau manusia yang lain, sabar itu urusan kita dengan Allah SWT.
Sabar itu bisanya untuk yang enak atau nggak enak? Biasanya sabar itu dikonotasikan dengan sesuatu yang tidak enak. Padahal ketika disuntik pak dokter, setelah sakit karena disuntik dan membayar kita masih mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Ibu-ibu ketika melahirkan sakit dan taruhannya nyawa, begitu bayi lahir ibu pasti ngucap ke dokternya “terima kasih”. Padahal udah dibedah perutnya (bagi yang sesar) dan membayar sejumlah uang.

Artinya, dalam dua contoh tersebut kita bisa syukur. Mengapa kita bisa begitu? Karena tahu apa yang dilakukan dokter itu demi kebaikan kita. Oleh sebab itu, pakailah dua contoh tersebut dalam semua kehidupan apabila ingin bersyukur.  Dalam hidup ini Allah SWT sedang memproses kita untuk menjadi sosok yang super baik dan super hebat, masalahnya proses belum selesai banyak manusia yang protes dan menyalahkan Allah SWT. Proses belum selesai, manusia sudah merasa tidak puas. Ibarat dokter yang sedang mengoperasi dan si pasien justru memakinya karena telah menimbulkan luka.

Biji kopi itu tidak enak, yang enak itu wedang kopi (minuman kopi).  Untuk menjadi minuman yang nikmat, kopi harus ditumbuk dan disiram air panas sehingga muncul aroma yang menggairahkan. Manusia juga begitu, kalau mau enak ya harus mengalami yang nggak enak dulu. Sayangnya, dalam hidup ini kita sering tidak sabar ketika mengalami sesuatu yang tidak enak karena tidak tahu akhirnya nanti seperti apa. Kita lebih sering melihat sesuatu yang sedang dialami sekarang.

Oleh sebab itu, untuk sabar kita harus berprasangka baik terhadap Allah yang maha kuasa. Apapun yang terjadi pada kita, merupakan kehendak Allah agar kita menjadi lebih baik. Jika kita percaya kepada Allah seperti itu, apapun yang terjadi kita akan menjadi lebih baik baik dan akan berterima kasih kepada Allah. Sebaliknya, jika dikit-dikit kita sudah protes, kita akan hidup tanpa syukur dan hidupnya akan susah.
Ditabrak motor, koma, uangnya diambil orang, dan cotoh-contoh lainnya itu baik atau buruk tergantung darimana kita memandangnya. Jika ingin semua itu hasilnya baik, maka berprasangka baiklah kepada Allah yang Maha Mengatur. Karena tidak ada satupun peristiwa yang terjadi karena izin Allah. Jika kita sudah bisa berprasangka baik kepada Allah, maka hasilnya akan menjadi baik.

Masalahnya, sebagian besar dari kita masih suka berprasangka buruk. Bahkan, kita sering menggunjing orang lain. Bahkan, kini muncul menggunjing gaya pengajian seperti “astaghfirulloh . . . ibu fulanah itu lo . . . .” Padahal itu termasuk menggunjing dan itu haram. Itu ibarat orang yang akan mencuri atau minum khamr dan mengucapkan basmalah terlebih dahulu. Selain itu, menggunjing keburukan orang lain merupakan cerminan dari seringnya kita berprasangka buruk kepada Allah SWT.

Orang yang mau berdakwah juga harus memiliki ilmu, jika tidak justru akan menjadi bencana. Menasehati itu ada ilmunya, ilmu dasar ketika menasehati ialah harus melihat orang yang dinasehati itu itu lebih baik di mata Allah daripada dirinya. Misalnya ada pemabuk di tengah jalan. Bisa tidak kita menasehati tapi dalam hati dan pikiran kita, ini pemabuk merupakan calon wali. Jika susah, berarti kita masih merasa lebih baik dari orang lain. Padahal, benarkah kita lebih baik dari pemabuk itu? Kita hanya tahu punya dosa satu, yaitu mabuk. Sedangkan kita tahu jika selama hidup ini telah melakukan sangat banyak dosa. Artinya, kita sombong jika merasa lebih baik dari pemabuk tersebut. Sedangkan orang yang sombong tempatnya di neraka.


Dulu, Bisr al Hafi dan murid-muridnya berjalan di tepi pantai, mereka melihat sekelompok pemuda sedang bermain gitar sambil mabuk dan disampingnya ada perempuan. Melihat kejadian tersebut, murid meminta sang ulama untuk mendoakan sesuatu yang buruk kepada para pemuda. Menurut para santri, merekalah yang merusak bumi dan menurunkan bencana. Akan tetapi, Bisr Al Hafi justri berdoa, “Ya Allah, Engkau telah membahagiakan mereka di dunia ini. Maka tolong bahagiakan mereka di akherat”. Saat itu para santri protes, tetapi sang guru menjawab jika ia diperintahkan Allah untuk mengajak manusia dengan hikmah, dengan cara yang bijaksana dan nasehat yang baik. Apabila ia mendoakan kematian, berarti saya mendoakan makhluk Allah untuk masuk neraka karena wafaat su’ul khotimah. Efeknya, para pemuda yang mendengar doa tersebut insaf dan bertaubat.

Lain cerita, di Simo (Boyolali) ada seorang pemabuk bertato yang sekarat karena tersengat listrik tegangan tinggi. Masyarakat berteriak agar orang tersebut tidak ditolong. Akan tetapi, dokter yang kebetulan ada di situ tetap menolongnya. Ketika didekati dokter, pria bertato itu misuh-misuh (ngomong kotor). Setelah tau jika pria tersebut merupakan seorang muslim, dokter tersebut menyarankan untuk mengucapkan dzikir. Anehnya, sang pemabuk menurut dan terus mendzikirkan subhanalloh. Ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit, si pemabuk mengucapkan permintaan maaf kepada dokter dan masyarakat. Setelah itu, si pemabuk kembali mendzikirkan subhanalloh dan meninggal dunia. Artinya, orang yang dipandang jelek oleh masyarakat tersebut khusnul khotimah.

Oleh sebab itu, amar ma’ruf nahi munkar harus terus kita jalankan tetapi dalam hati kita jangan sampai ada rasa sombong dan merasa lebih baik. Karena sejatinya yang mengetahui jati diri manusia hanya Allah SWT. Bisa tidak kita seperti itu? Menurut Imam Ghazali, jika melihat anak yang muda usahakan di hati muncul rasa kagum karena mereka memiliki maksiat yang baru sedikit. Dia lebih baik dari saya. Jika ketemu orang yang lebih tua,    merasalah jika umurnya sudah panjang dalam ketaatan. Dia lebih baik dari saya. Jika ketemu orang yang maksiat, dia maksiatnya Cuma satu (yang terlihat secara dhohir) sedangkan saya tidak terkira. Berarti dia lebih baik dari saya. Jika ketemu nonmuslim, dia bisa meninggal dalam keadaan Islam tapi saya belum tentu meninggal khusnul khotimah. Artinya, bertemu siapapun selalu prasangka baik yang dikedepankan.

Dengan kata lain, yang pertama harus dihilangkan adalah prasangka buruk terhadap Allah SWT dan hamba-hamba-Nya. Siapapun yang bisa berprasangka baik terhadap Allah SWT, pasti ia bisa sabar dan syukur. Seperti ketika diobati dokter, kita akan nurut dengan seluruh tindakan dokter atas tubuh kita. Bahkan, kita berterimakasih dan membayar sang dokter. Yakinlah bahwa seperti apapun keadaan kita, Allah SWT memiliki rencana atas diri kita. Teruslah berprasangka baik terhadap apapun yang menimpa diri kita.
Mari kita intropeksi diri sendiri. Sudah baikkah diri kita? Mengapa kita masih sering menilai orang lain lebih buruk dari kita? Walaupun sebenarnya kita sadar jika masih banyak buruknya. Perasaan tersebut muncul karena adanya setan.

Untuk membuat hati bersih dari godaan syetan, kita harus ibadah. Ibadah inilah yang dapat membersihkan hati. Semua itu baik, dan yang terbaik dari semua ibadah adalah solat lima waktu. Ibadah ini hanya butuh waktu sekitar lima menit (tiap solat), tapi bisakah kita khusuk ketika sholat? Padahal nonton sinetron satu jam kita bisa khusuk. Bahkan, kita bisa marah jika ada yang mengganggu kekhusukkan kita dalam menonton sinetron. Sudahkah kita seperti itu ketika sholat? Bahkan, masih banyak orang yang asyik sms-an sebelum takbir sholat.

Ketika kita solat, sudahkah kita dadan? Kita masih sering menggunakan pakaian yang ‘seadanya’ untuk sholat. Padahal perintahnya jelas, pakailah pakaian yang terbaik setiap kita sholat. Bahkan, pakaian kita tidak sebaik saat kita akan memenuhi undangan orang yang sedang memiliki hajat (seperti pernikahan). Padahal yang ngundang kita sholat itu Allah, yang seharusnya lebih kita ‘hargai’ dari siapapun.

Artinya, kita masih sering menomorduakan sholat. Contoh lain, kebanyakan kita apakah rela menghentikan nonton sinetron yang sedang seru untuk bergegas sholat ketika adzan berkumandang? Itu untuk ibu-ibu. Untuk bapak-bapak, ketika adzan berkumandang dan ada transaksi uang, manakah yang lebih dipilih?
Selanjutnya, sedekah. Untuk bapak-bapak, sodakoh terbaik untuk suami adalah menafkahi istri. Sesuap nasi kepada istrimu lebih baik dibandingkan diberikan kepada siapapun. Inilah salah satu pandangan Islam yang meninggikan wanita. Dalam warisan, seolah-olah perempuan termarginalkan karena mendapat bagian  yang lebih sedikit. Padahal, bagian suami wajib untuk dinafkahkan kepada keluarganya dan bagian perempuan itu hanya untuk dirinya sendiri (tidak ada kewajiban untuk menafkahi).

Ucapan baik suami yang dapat menyenangkan istri juga sodakoh. Masalahnya sekarang banyak suami yang ketika bersama istrinya justru mengucapkan sesuatu yang tidak baik, dan sebaliknya. Inilah yang menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka perceraian di Jawa Tengah. 

Dulu pernah ada seorang komandan Kopassus yang bercerita kepada saya. Ia dimintai anak buahnya untuk menandatangani surat permohonan perceraian, di Kopassus untuk bercerai harus diizinkan pimpinannya. Sang komandan enggan memberi tanda tangan sebelum anak buahnya tersebut menjalankan pesannya, pasangan tersebut diminta solat berjamaah selama seminggu. Seminggu kemudian, anggota Kopassus tersebut menghadap komandannya dan tidak jadi menggugat cerai dan ingin terus bersama hingga ke surga.

Ini merupakan salah satu cermin, pada kenyataannya banyak di antara kita yang lebih sering berjamaah ketika nonton sinetron dan pertandingan bola. Sedangkan berjamaah ketika sholat, hadir di pengajian, tadarus Al-Qur’an bisa dihitung dihitung dengan jari. Artinya, kita lebih sering berjamaah untuk urusan dunia.
Termasuk sodakoh terbaik merupakan perkataan yang baik kepada istri. Untuk itu, bapak-bapak harus pandai berbohong untuk menyenangkan istri. Karena pada kenyataannya para istri senang ‘dibohongi’. Sebagai contoh, istri senang dipuji sebagai yang tercantik. Meskipun sebenarnya ia tahu bila itu bohong. Begitu juga suami, mereka senang dipuji oleh pasangannya meskipun pujian itu cukup berlebihan. Dalam rumah tangga diperlukan bumbu-bumbu seperti ini.

Dalam riwayat yang dhoif , Nabi SAW pernah bersabda (bil makna): dudukmu untuk menyenangkan pasanganmu lebih utama daripada i’tikaf di masjidku (Masjid Nabawi) selama satu tahun. Padahal kita tahu jika i’tikaf di masjid tersebut memiliki pahala yang sangat besar. Sayangnya, banyak orang yang lebih senang ngobrol dengan teman-temannya daripada dengan pasangannya.

Sedekah uang sudah sering dibahas, tapi sedekah terhadap pasangan hidupnya semacam ini masih jarang dibahas. Padahal ngomong yang baik kepada pasangannya itu adakalanya lebih baik daripada member uang. Sedekah ucapan yang baik itu lebih baik daripada menyedekahkan sesuatu tapi diikuti dengan kata-kata yang menyakiti.

Apabila diikuti 4 S tersebut (Sabar, Syukur, Sholat, dan Sodakoh) maka kita akan mendapatkan S yang terakhir, yaitu sukses. Demikian pesan Kapolda Jawa Tengah.

Jika melihat polisi kita masih sering melihat dengan pandangan yang buruk, padahal di awal tadi kita belajar untuk memandang orang lain secara positif. Jika tidak pakai helm dan ditilang kita marah, melanggar lampu merah ditilang kita marah. Jika seperti itu yang gendeng (tidak waras) siapa?

Habib Naufal mengaku mendapat pelajaran ketika beliau diundang ceramah ke Hongkong. Lampu merah di sana sangat dipatuhi, termasuk bagi pejalan kaki. Ternyata mereka di didik seperti itu sejak di sekolah. Selain karena didikan, pelanggar lampu merah di sana akan dikenai denda seribu dolar. Hasilnya, masyarakatnya tertib.

Mari bercermin kepada pekerjaan polisi. Di tengah panasnya matahari siang, mereka tetap setia mengatur jalan. Ironisnya, masih banyak yang misui (mengumpat). Jika masih seperti ini, berartui kita belum bisa menghargai jasa orang lain.

Pesan terakhir Habib Naufal untuk menyambut bulan Ramadhan dalam kesempatan ini, jangan cari kesalahan orang lain. Sibukkan diri kita untuk mengurusi dan memperbaiki kesalahan diri sendiri. Salah satu yang terpenting, perbaiki hubungan dengan orang tua kita. Manfaatkan waktu yang tersisa untuk melayani orang tua. Karena sebagian besar dari kita selama ini justru dilayani orang tua, terutama ketika puasa.

Dalam kesempatan ini Habib Naufal juga mengusulkan diadakannya Solo Bertakbir menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri. Rute yang ditawarkan habib dari Lapangan Kota Barat menuju Balai Kota, berjalan kaki sambil membawa obor dan iringan rebana.


Disampaikan Habib Naufal bin Muhammad Alaydrus di Mapolres Surakarta dalam rangka HUT Bhayangkara ke-67


Sumber MMN: http://www.muslimedianews.com/2013/10/rumus-5-s-bagian-2-habis.html#ixzz2qTW90NFt

Kamis, 02 Januari 2014

Asal Mula Alam Semesta ( Versi Islam)

Ilmu pengetahuan moderen, ilmu astronomi, baik yang berdasarkan pengamatan maupun berupa teori, dengan jelas menunjukkan bahwa pada suatu saat seluruh alam semesta masih berupa 'gumpalan asap' (yaitu komposisi gas yang sangat rapat dan tak tembus pandang, The First Three Minutes, a Modern View of the Origin of the Universe, Weinberg, hal. 94-105.). Hal ini merupakan sebuah prinsip yang tak diragukan lagi menurut standar astronomi moderen. Para ilmuwan sekarang dapat melihat pembentukan bintang-bintang baru dari peninggalan 'gumpalan asap' semacam itu (lihat gambar 10 dan 11)
Bintang-bintang yang berkilauan yang kita lihat di malam hari, sebagaimana seluruh alam semesta, dulunya berupa materi 'asap' semacam itu. Allah telah berfirman di dalam Al Qur'an:

ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ
Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap,... (Al Fushshiilat, 41: 11)

Karena bumi dan langit di atasnya (matahari, bulan, bintang, planet, galaksi dan lain-lain) terbentuk dari 'gumpalan asap' yang sama, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa matahari dan bumi dahulu merupakan satu kesatuan. Kemudian mereka berpisah dan terbentuk dari 'asap' yang homogen ini. Allah telah berfirman:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. (Al Anbiya, 21:30)

Dr. Alfred Kroner adalah salah satu ahli ilmu bumi terkemuka. Ia adalah Profesor geologi dan Kepala Departemen Geologi pada Institute of Geosciences, Johannes Gutenberg University, Mainz, Jerman. Ia berkata: "Jika menilik tempat asal Muhammad... Saya pikir sangat tidak mungkin jika ia bisa mengetahui sesuatu semisal asal mula alam semesta dari materi yang satu, karena para ilmuwan saja baru mengetahui hal ini dalam beberapa tahun yang lalu melalui berbagai cara yang rumit dan dengan teknologi mutakhir. Inilah kenyataannya." Ia juga berkata:

 "Seseorang yang tidak mengetahui apapun tentang fisika inti 14 abad yang lalu, menurut saya, tidak akan pernah bisa mengetahui, melalui pemikirannya sendiri, bahwa dulunya bumi dan langit berasal dari hal yang satu."

Sebuah bintang terbentuk dari gumpalan gas dan asap (nebula), yang merupakan peninggalan dari 'asap' yang menjadi asal kejadian alam semesta. 
 Gambar 10. Sebuah bintang terbentuk dari gumpalan gas dan asap (nebula), yang merupakan peninggalan dari 'asap' yang menjadi asal kejadian alam semesta. (The Space Atlas, Heather dan Henbest, hal. 50)

Nebula Laguna adalah sebuah gumpalan gas dan asap yang berdiameter sekitar 60 tahun cahaya. Ia dipendarkan oleh radiasi ultraviolet dari bintang panas yang baru saja terbentuk di dalam gumpalan tersebut.
Gambar 11. Nebula Laguna adalah sebuah gumpalan gas dan asap yang berdiameter sekitar 60 tahun cahaya. Ia dipendarkan oleh radiasi ultraviolet dari bintang panas yang baru saja terbentuk di dalam gumpalan tersebut. (Horizons, Exploring the Universe, Seeds, gambar 9, dari Association of Universities for Research in Astronomy, Inc.)

SUNAN GUNUNG JATI (Cerita Wali Songo)


1.       Asal Usul Sunan Gunung Jati

Dalam usia yang begitu muda Syarif Hidayatullah ditinggal mati oleh ayahnya. Ia ditunjuk untuk menggantikan kedudukannya sebagai Raja Mesir tapi anak yang masih berusia dua puluh tahun itu tidak mau. Dia dan ibunya bermaksud pulang ke tanah jawa berdakwah di Jawa Barat. Kedudukan ayahnya itu kemudian diberikan kepada adiknya yaitu Syarif Nurullah.

Sewaktu berada di negeri Mesir Syarif Hidayatullah berguru kepada beberapa ulam besar didaratan timur tengah. Dalam usia muda itu ilmunya sudah sangat banyak, maka ketika pulang ke tanah leluhurnya yaitu Jawa ia tidak merasa kesulitan melakukan dakwah.

2.       Perjuangan Sunan Gunung Jati

Sering kali terjadi kerancuan antara nama Fatahillah dengan Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati. Orang menganggap Fatahillah dan Syarif Hidayatullah adalah satu, tetapi yang benar adalah dua orang. Syarif Hidayatullah cucu Raja Pajajaran adalah seorang penyebar Islam di Jawa Barat yang kemudian disebut Sunan Gunung Jati. Sedangkan Fatahillah adalah seorang pemuda Pasai yang dikirim Sultan Trenggana membantu Sunan Gunung Jati berperang melawan Portugis. Bukti bahwa Fatahillah bukan Sunan Gunung Jati adalah makam dekat Sunan Gunung Jati yang ada tulisan Tubagus Pasai adalah Fathullah atau Fatahillah atau Faletehan menurut Lidah Orang Portugis......

Syarif Hidayatullah dan ibunya Syarifah Muda’im datang ke negeri Caruban Larang Jawa Barat pada tahun 1475 sesudah mampir dahulu di Gujarat dan Pasai untuk menambah pengalaman. Kedua orang itu disambut gembira oleh Pangeran Cakrabuana dan keluarganya. Syekh Datuk Kahfi sudah wafat, guru Pangeran Cakrabuana dan Syarifah Muda’im itu dimakamkan di Pasambangan. Dengan alasan agar selalu dekat dengan makam gurunya. Syarifah Muda’im minta diizinkan tinggal di Pasambangan atau Gunung Jati.

Syarifah Muda’im dan puteranya Syarif Hidayatullah meneruskan usaha Syekh Datuk Lahfi. Sehingga kemudian hari Syarif Hidayatullah terkenal sebagai Sunan Gunung Jati. Tibalah saat yang ditentukan, pangeran Cakrabuana menikahkan anaknya yaitu Nyi Pakungwati dengan Syarif Hidayatullah. Selanjutnya yaitu pada tahun 1479 karena usia lanjut pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaan negeri Caruban kepada Syarif Hidayatullah dengan gelar Susuhan yaitu orang yang dijunjung tinggi.

Disebutkan, pada tahun pertama pemerintahannya Syarif Hidayatullah berkunjung ke Pajajaran untuk mengunjungi kakeknya yaitu Prabu Siliwangi. Sang Prabu diajak masuk Islam kembali tetapi tidak mau. Meski Prabu Siliwangi tidak mau masuk Islam, dia tidak menghalangi cucunya menyiarkan agama Islam di wilayah Pajajaran.

Syarif Hidayatullah kemudian melanjutkan perjalanannya ke Serang. Penduduk Serang sudah ada yang masuk Islam dikarenakan banyaknya saudagar dari Arab dan Gujarat yang sering singgah ke tempat itu. Kedatangan Syarif Hidayatullah disambut baik oleh Adipati Banten. Bahkan Syarif Hidayatullah dijodohkan dengan puteri Adipati Banten yang bernama Nyi Kawungten. Dari perkawinannya inilah kemudian Syarif Hidayatullah dikaruniai dua orang putera yaitu Nyi Ratu Winaon dan Pangeran Sebakingking. Dalam menyebarkan agama Islam di tanah jawa, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati tidak bekerja sendirian, beliau sering bermusyawarah dengan anggota para wali  lainnya di mesjid Demak. Bahkan disebutkan beliau juga membantu berdirinya mesjid Demak.

Dari pergaulannya dengan Sultan Demak dan para wali lainnya ini akhirnya Syarif Hidayatullah mendirikan Kesultanan Pakungwati dan ia memploklamirkan diri sebagai raja yang pertama dengan gelar Sultan. Dengan berdirinya Kesultanan tersebut Cirebon tidak lagi mengirim upeti kepada Pajajaran yang biasanya disalurkan lewat Kadipaten Galuh.

Dengan bergabungnya prajurit dan perwira pilihan ke Cirebon maka makin bertambah besarlah pengaruh Kesultanan Pakungwati. Daerah-daerah lain seperti: Surakanta, Japura, Wanagiri, Telaga dan lain-lain menyatakan diri menjadi wilayah Keslutanan Cirebon. Lebih-lebih dengan diperluasnya Pelabuhan Muara Jati, makin bertambah besarlah Kasultanan Cirebon. Banyak pedagang besar dari negeri asing datang menjalin persahabatan. Diantaranya dari negeri Tiongkok. Salah seorang keluarga istana Cirebon kawin dengan pembesar dari negeri Cina yang berkunjung ke Cirebon yaitu Ma Huan. Maka jalinan antara Cirebon dan negeri Cina makin erat.

Bahkan Sunan Gunung Jati pernah diundang ke negeri Cina dan kawin dengan puteri Kaisar Cina bernama puteri Ong Tien. Kaisar Cina pada saat itu dari dinasti Ming juga beragama Islam. Dengan perkawinan itu sang Kaisar ingin menjalin erat hubungan baik antara Cirebon dan negeri Cina, hal ini ternyata menguntungkan bangsa Cina untuk dimanfaatkan dalam dunia perdagangan.

Sesudah kawin dengan Sunan Gunung Jati, puteri Ong Tien diganti namanya menjadi Nyi Ratu Rara Semanding. Kaisar ayah puteri Ong Tien ini membekali puterinya dengan harta benda yang tidak sedikit. Sebagian besar barang-barang peninggalan puteri Ong Tien yang dibawa dari negeri Cina itu sampai sekarang masih ada dan tersimpan di tempat yang aman. Istana dan Mesjid Cirebon kemudian dihiasi lagi dengan motif-motif hiasan dinding dari negeri Cina.

Mesjid Agung Sang Ciptarasa dibangun pada tahun 1980 atas prakarsa Nyi Ratu Pakungwati atau isteri Sunan Gunung Jati. Dari pembangunan mesjid itu melibatkan banyak pihak, diantaranya Wali Songo dan sejumlah tenaga ahli yang dikirim oleh Raden Patah. Dalam pembangunan itu Sunan Kalijaga mendapat penghormatan untuk mendirikan Soko Tatal sebagai lambang persatuan umat. Selesai membangun mesjid, diteruskan dengan membangun jalan raya yang menhubungkan Cirebon dengan daerah-daerah Kadipaten lainnya untuk memperluas pengembangan Islam diseluruh tanah pasundan. Prabu Siliwangi hanya bisa menahan diri atas perkembangan wilayah Cirebon yang semakin luas itu. Bahkan wilayah Pajajaran sendiri sudah semakin terhimpit.

Pathak Warak menyumpah-nyumpah, hatinya marah sekali diperlakukan seperti itu. Apalagi dilihatnya para tamu undangan menertawakan kekonyolan itu, diapun semakin malu. Hampir saja Roroyono ditamparnya kalau tidak ingat bahwa gadis itu adalah puteri gurunya.

Pada tahun 1511 Malaka diduduki oleh bangsa Portugis. Selanjutnya mereka ingin memperluas kekuasaannya ke pulau jawa. Pelabuhan sunda kelapa yang jadi incaran mereka untuk menancapkan kuku penjajahan. Demak Bintoro tahu bahaya besar yang mengancam kepulauan nusantara. Oleh karena itu Raden Patah mengirim adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor untuk menyerang Portugis di Malaka. Ada salah seorang pejuang Malaka yang ikut ke tanah jawa yaitu Fatahillah. Ia bermaksud meneruskan perjuangannya di tanah jawa. Dan dimasa Sultan Trenggana ia diangkat menjadi panglima perang.

Pengalaman adalah guru yang terbaik, dari pengalamannya bertempur di Malaka tahulah Fatahillah titik-titik lemah tentara dan siasat Portugis. Itu sebabnya dia dapat memberi komando dengan tepat dan setiap serangan Demak-Cirebon selalu membawa hasil gemilang. Akhirnya Portugis dan Pajajaran kalah, Portugis kembali ke Malaka, sedang tentara Pajajaran cerai berai tak menentuk arahnya.

Selanjutnya Fatahillah ditugaskan mengamankan Banten dari gangguan para pemberontak yaitu sisa-sisa pasukan Pajajaran. Usaha ini tidak menemui kesulitan karena Fatahillah dibantu putera Sunan Gunung Jati yang bernama Pangeran Sebakingking. Dikemudian hari Pangeran Sebakingking ini menjadi penguasa Banten dengan gelar Pangeran Hasanuddin.

Kurang lebih sekitar tahun 1479, Sunan Gunung Jati pergi ke daratan Cina dan tinggal didaerah Nan King. Di sana ia digelari dengan sebutan Maulana Insanul Kamil.

Daratan Cina sejak lama dikenal sebagai gudangnya ilmu pengobatan, maka disanalah Sunan Gunung Jati juga berdakwah dengan jalan memanfaatkan ilmu pengobatan. Beliau menguasai ilmu pengobatan tradisional. Disamping itu , pada setiap gerakan fisik dari ibadah Sholat sebenarnya merupakan gerakan ringan dari terapi pijat atau akupuntur, terutama bila seseorang mau mendirikan Sholat dengan baik, benar lengkap dengan amalan sunah dan tuma’ninahnya. Dengan mengajak masyarakat Cina agar tidak makan daging babi yang mengandung cacing pita, dan giat mendirikan sholat lima waktu, maka orang yang berobat kepada Sunan Gunung Jati banyak yang sembuh sehingga nama Gunung Jati menjadi terkenal di seluruh daratan Cina.

Di negeri naga itu Sunan Gunung Jati berkenalan dengan Jenderal Ceng Ho dan sekretaris kerajaan bernama Ma Huan, serta Feis Hsin, ketiga orang ini sudah masuk Islam. Pada suatu ketika Sunan Gunung Jati berkunjung ke hadapan kaisar Hong Gie, pengganti kaisar Yung Lo dengan puteri kaisar yang bernama Ong Tien. Menurut versi lain yang mirip sebuah legenda, sebenarnya kedatangan Sunan Gunung Jati di negeri Cina adalah karena tidak sengaja. Pada suatu malam, beliau hendak melaksanakan sholat tahajjud. Beliau hendak sholat di rumah tetapi tidak khusu’ lalu beliau sholat di mesjid, di mesjid juga belum khusu’. Beliau heran padahal bagi para wali, sholat tahajjud itu adalah kewajiban yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kemudian Sunan Gunung Jati sholat diatas perahu dengan khusu’. Bahkan dapat tidur dengan nyenyak setelah sholat dan berdo’a.

Ketika beliau terbangun beliau merasa kaget. Daratan pulau jawa tidak nampak lagi. Tanpa sepengetahuannya beliau telah dihanyutkan ombak hingga sampai ke negeri Cina. Di negeri Cina beliau membuka praktek pengobatan. Pendudu Cina yang berobat disuruhnya melaksanakan sholat. Setelah mengerjakan sholat mereka sembuh. Makin hari namanya makin terkenal, beliau dianggap sebagai sinshe yang berkepandaian tinggi terdengar oleh kaisar. Sunan Gunung Jati dipanggil keistana, kaisar hendak menguji kepandaian Sunan Gunung Jati sebagai tabib dia pasti dapat mengetahui mana seorang yang hamil muda atau belum hamil.

Dua orang puteri kaisar disuruh maju. Seorang diantara mereka sudah bersuami dan sedang hamil muda atau baru dua bulan. Sedang yang seorang lagi masih perawan namun perutnya diganjal dengan bantal sehingga nampak seperti orang hamil. Sementara yang benar-benar hamil perutnya masih kelihatan kecil sehingga nampak seperti orang yang belum hamil. Hai tabib asing, mana diantara puteriku yang hamil? Tanya kaisar.

Sunan Gunung Jati diam sejenak. Ia berdoa kepada Tuhan.

Hai orang asing mengapa kau diam? Cepat kau jawab! Teriak kaisar Cina.

Dia! Jawab Sunan Gunung Jati sembari menunjuk puteri Ong Tien yang masih Perawan. Kaisar tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban itu. Demikiann pula seluruh balairung istana kaisar.

Namun kemudian tawa mereka terhenti, karena puteri Ong Tien menjerit keras sembari memegangi perutya.

Ayah! Saya benar-benar hamil.

Maka gemparlah seisi istana. Ternyata bantal diperut Ong Tien telah lenyap entah kemana. Sementara perut puteri cantik itu benar-benar membesar seperti orang hamil.

Kaisar menjadi murka. Sunan Gunung Jati diusir dari daratan Cina. Sunan Gunung Jati menurut, hari itu juga ia pamit pulau ke pulau jawa. Namun puteri Ong Tien ternyata terlanjur jatuh cinta kepada Sunan Gunung Jati maka dia minta kepada ayahnya agar diperbolehkan menyusul Sunan Gunung Jati ke pulau Jawa.

Kaisar Hong Gie akhirnya mengijinkan puterinya menyusul Sunan Gunung Jati ke pulau Jawa. Puteri Ong Tien dibekali harta benda dan barang-barang berharga lainnya seperti bokor, guci emas dan permata. Puteri cantik itu dikawal oleh tiga orang pembesar kerajaan yaitu Pai Li bang seorang menteri negara. Lie Guan Chang dan Lie Guan Hien. Pai Li Bang adalah salah seorang murid Sunan Gunung Jati tatkala beliau berdakwah di Cina.

Dalam pelayarannya ke pulau jawa, mereka singgah di kadipaten Sriwijaya. Begitu mereka datang para penduduk menyambutnya dengan meriah sekali. Mereka merasa heran.

Ada apa ini? Pai Li Bang bertanya kepada tetua masyarakat Sriwijaya.

Tetua masyarakat balik bertanya. Siapa yang bernama Pai Li Bang?

Saya sendiri, jawab Pai Li Bang.

Kontan Pai Li Bang digotong penduduk diatas tandu. Dielu-elukan sebagai pemimpin besar. Dia dibawa ke istana Kadipaten Sriwijaya.

Setelah duduk dikursi Adipati, Pai Li Bang bertanya, sebenarnya apa yang terjadi?

Tetua masyarakat itu menerangkan. Bahwa adipati Ario Damar selaku pemegang kekuasaan Sriwijaya telah meninggal dunia. Penduduk merasa bingung mencari penggantinya, karena putera Ario Damar sudah menetap di Pulau Jawa. Yaitu Raden Fatah dan Raden Hasan.

Dalam kebingungan itulah muncul Sunan Gunung Jati, beliau berpesan bahwa sebentar lagi akan datang rombongan muridnya dari negeri Cina, namanya Pai Li Bang. Muridnya itulah yang pantas menjadi pengganti Ario Damar. Sebab muridnya itu adalah seorang menteri negara di negeri Cina.

Setelah berpesan begitu Sunan Gunung Jati meneruskan pelayarannya ke pulau jawa. Pai Li Bang memang muridnya. Dia semakin kagum dengan gurunya yang ternyata mengetahui sebelum kejadian, tahu kalau dia bakal menyusul ke pulau jawa. Pai Li Bang tidak menolak keinginan gurunya, dia bersedia menjadi adipati Sriwijaya. Dalam pemerintahannya Sriwijaya maju pesat sebagai kadipaten yang paling makmur dan aman. Setelah Pai Li Bang meninggal dunia maka nama kadipaten Sriwijaya diganti menjadi nama kadipaten Pai Li Bang, dalam perkembangannya karena proses pengucapan lidah orang Sriwijaya maka lama kelamaan kadipaten itu lebih dikenal dengan sebutan Palembang hingga sekarang.

Sementara itu puteri Ong Tien meneruskan pelayarannya hingga ke pulau jawa. Sampai di Cirebon dia mencari Sunan Gunung Jati, tapi Sunan Gunung Jati sedang berada di Luragung. Puteri itupun menyusulnya. Pernikahan antara puteri Ong Tien denga Sunan Gunung Jati terjadi pada tahun 1481, tapi sayang pada tahun 1485 puteri Ong Tien meninggal dunia. Maka jika anda berkunjung ke makam Sunan Gunung Jati di Cirebon jangan lah merasa heran disana banyak ornamen cina dan nuansa cina lainnya. Memang ornamen dan barang-barang antik itu berasal dari cina.

Wali songo selalu bermusyawarah apabila menghadapi suatu masalah pelik yang berkembang di masyarakat. Termasuk kebijakan dakwah yang mereka lakukan kepada masyarakat jawa.

Mula-mula sunan Ampel tidak setuju atas cara dakwah yang dilakukan Sunan Kalijaga danSunan Bonang. Namun Sunan Kudus mengajukan pedapatnya. Saya setuju dengan pendapatSunan Kalijaga, bahwa adat istiadat lama yang masih bisa diarahkan kepada agama tauhid maka kita akan memberikannya warna Islami. Sedang adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menjurus ke arah kemusyrikan kita tinggal sama sekali. Sebagai misal, gamelan dan wayang kulit, kita bisa memberinya warna Islam sesuai dengan selera masyarakat. Adapun tentang kekuatiran kanjeng Sunan Ampel, saya mempunyai keyakinan bahwa dibelakang hari akan ada orang yang menyempurnakannya.

Adanya dua pendapat yang seakan bertentangan tersbut sebanarnya mengandung hikmah. Pendapat Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus ada benarnya yaitu agar Islam cepat diterima oleh orang jawa, dan ini terbukti, dikarenakan dua wali tersebut pandai mengawinkan adat istiadat lama yang dapat ditolerir Islam maka penduduk jawa banyak yang berbondong-bondong masuk agama Islam. Pada prinsipnya mereka mau menerima Islam dengan lebih dahulu dan sedikit  demi sedikit kemudian mereka akan diberi pengertian akan kebersihan tauhid dalam iman mereka.

Sebaliknya, adanya pendapat Sunan Ampel yang menginginkan Islam harus disiarkan dengan murni dan konsekuen juga mengandung hikmah kebenaran yang hakiki, sehingga membuat umat semakin berhati-hari menjalankan syariat agama secara benar dan bersih dari segala macam bid’ah. Inilah jasa Sunan Ampel yang sangat besar, dengan peringatan inilah beliau telah menyelamatkan aqidah umat agar tidak tergelincitr ke lembah musyrik.

sumber: http://kisah-kisahwalisongo.blogspot.com/2012/01/sunan-gunung-jati.html