Rabu, 15 Januari 2014

Muslimedianews.com ~ 5 S yang dimaksud di sini merupakan Sabar, Syukur, Sholat, Sodakoh, dan Sukses. Kelima pesan ini menurut Habib Naufal bin Muhammad Alaydrus didapat dari Kapolda Jawa Tengah. Sebelum menguraikan tentang 5 S, habib bercerita tentang ulama besar, soleh, dan hebat yang ketika ditanya mengenai gurunya, ia menjawab jika gurunya adalah wangwung. Wangwung ini tidak bisa hidup dari kotoran, jika disemprot minyak wangi ia justru mati.

Ketika ulama tersebut berjalan menuju masjid, ia melihat wangwung yang sedang berjalan di kubah masjid. Wangwung tersebut berusaha jalan menuju kubah masjid, tetapi selalu jatuh meskipun ia mencoba hingga berkali-kali. Ketika iqomah, ulama itupun masuk menuju masjid. Setelah solat dan dzikir, ia kembali melihat ke arah kubah. Saat itu ulama tersebut emlihat wangwungnya sudah ada di puncak kubah. Akhirnya ulama ini berfikir, jika wangwung saja tidak mau menyerah, dia terus berusaha dan sabar untuk sampai ke puncak kubah. Mengapa saya tidak sabar dan gampang menyerah? Sejak itulah sang ulama tidak mengenal kata menyerah. Akhirnya, ia menjadi ulama yang luar biasa, ilmunya luar biasa, dan kesolehannya luar biasa.

Orang yang sabar merupakan orang yang menyadari jika yang dialami merupakan suatu tantangan yang tidak enak, tetapi ia sabar. Sebagai contoh, seorang istri yang sering diringgal suaminya dinas keluar kota dan ia tetap sabar.

Sabar merupakan derajat awal. Agar menjadi enak, ubahlah menjadi syukur. Jika ada orang yang kepalanya tertimpa batu bata dan mengucapkan Alhamdulillah, dialah orang yang syukur. Tetapi jika mengucapkan innalillah, dia masih sabar.

Masih ingat cerita tentang Mbah Mubarid? Ketika sedang naik sepeda beliau ditabrak sepeda motor. Mbah Mubarid dan orang yang menabraknya sama-sama jatuh. Mbah Mubarid bangun lebih dulu, kemudian memegang tangan orang yang menabraknya. Beliau bertanya, “le..koe mau mangkat seko omah niat nabrak aku opo ora?” (Nak, kamu tadi berangkat dari rumah niat menabrak saya atau tidak). Setelah yang ditabrak menjawab “mboten mbah” (tidak mbah), Mbah Mubarid mengatakan “podo, aku yo ra niat njaluk mbok tabrak” (Sama, saya juga tidak niat minta kamu tabrak). Selanjutnya, Mbah Mubarid mengangkat tangan anak muda yang menabraknya dan berucap “Alhamdulillah, yuk mulih” (Alhamdulillah, mari pulang).

Mbah Mubarid bisa ketabrak dan bisa mengucap Alhamdulillah, kira-kira seperti itu mudah atau susah?

Ibu-ibu misalnya, sebagai orang tua kaum ibu memiliki derajat yang lebih tinggi karena susahnya melebihi kaum bapak. Mereka mengalami tiga kesusahan setelah menikah, pertama ketika mengandung, kedua ketika melahirkan, dan ketiga ketika merawat-menyusui hingga usia anak mencapai dua tahun. Itu waktu susah-susah yang luar biasa. Makanya, ibu-ibu pasti susah jika tidak sabar.

Pakailah prinsip ini agar bisa sabar. Dalam sebuah hadis, Rosululloh Muhammad SAW bersabda: barangsiapa dalam urusan dunia melihat yang lebih susah, dalam urusan akherat melihat yang lebih hebat, maka dia akan menjadi orang yang sabar dan syukur. Barang siapa dalam urusan dunia melihat yang lebih sukses, dalam urusan akherat melihat yang lebih rusak, maka dia akan menjadi orang yang tidak akab bisa sabar dan syukur.

Dalam hidup ini harus ada sabar dan syukur, orang yang sabar pasti bisa syukur dan sebaliknya. Oleh karena itu, agar ibu-ibu bisa sabar menghadapi suami, anak, dan masyarakat pakailah pepatah Jawa. Meskipun pendek, tapi maknanya luar biasa. Orang Jawa berkata: seng waras ngalah (yang merasa waras ngalah).Bulan Ramadhan merupakan lahan yang luar biasa untuk latihan sabar tingkat tinggi. Sesuatu yang tadinya boleh di bulan Ramadhan jadi tidak boleh setelah masuk waktu subuh. Bisa tidak kita sabar? Dan sabar itu ukurannya bukan sikap kita terhadap lawan atau manusia yang lain, sabar itu urusan kita dengan Allah SWT.
Sabar itu bisanya untuk yang enak atau nggak enak? Biasanya sabar itu dikonotasikan dengan sesuatu yang tidak enak. Padahal ketika disuntik pak dokter, setelah sakit karena disuntik dan membayar kita masih mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Ibu-ibu ketika melahirkan sakit dan taruhannya nyawa, begitu bayi lahir ibu pasti ngucap ke dokternya “terima kasih”. Padahal udah dibedah perutnya (bagi yang sesar) dan membayar sejumlah uang.

Artinya, dalam dua contoh tersebut kita bisa syukur. Mengapa kita bisa begitu? Karena tahu apa yang dilakukan dokter itu demi kebaikan kita. Oleh sebab itu, pakailah dua contoh tersebut dalam semua kehidupan apabila ingin bersyukur.  Dalam hidup ini Allah SWT sedang memproses kita untuk menjadi sosok yang super baik dan super hebat, masalahnya proses belum selesai banyak manusia yang protes dan menyalahkan Allah SWT. Proses belum selesai, manusia sudah merasa tidak puas. Ibarat dokter yang sedang mengoperasi dan si pasien justru memakinya karena telah menimbulkan luka.

Biji kopi itu tidak enak, yang enak itu wedang kopi (minuman kopi).  Untuk menjadi minuman yang nikmat, kopi harus ditumbuk dan disiram air panas sehingga muncul aroma yang menggairahkan. Manusia juga begitu, kalau mau enak ya harus mengalami yang nggak enak dulu. Sayangnya, dalam hidup ini kita sering tidak sabar ketika mengalami sesuatu yang tidak enak karena tidak tahu akhirnya nanti seperti apa. Kita lebih sering melihat sesuatu yang sedang dialami sekarang.

Oleh sebab itu, untuk sabar kita harus berprasangka baik terhadap Allah yang maha kuasa. Apapun yang terjadi pada kita, merupakan kehendak Allah agar kita menjadi lebih baik. Jika kita percaya kepada Allah seperti itu, apapun yang terjadi kita akan menjadi lebih baik baik dan akan berterima kasih kepada Allah. Sebaliknya, jika dikit-dikit kita sudah protes, kita akan hidup tanpa syukur dan hidupnya akan susah.
Ditabrak motor, koma, uangnya diambil orang, dan cotoh-contoh lainnya itu baik atau buruk tergantung darimana kita memandangnya. Jika ingin semua itu hasilnya baik, maka berprasangka baiklah kepada Allah yang Maha Mengatur. Karena tidak ada satupun peristiwa yang terjadi karena izin Allah. Jika kita sudah bisa berprasangka baik kepada Allah, maka hasilnya akan menjadi baik.

Masalahnya, sebagian besar dari kita masih suka berprasangka buruk. Bahkan, kita sering menggunjing orang lain. Bahkan, kini muncul menggunjing gaya pengajian seperti “astaghfirulloh . . . ibu fulanah itu lo . . . .” Padahal itu termasuk menggunjing dan itu haram. Itu ibarat orang yang akan mencuri atau minum khamr dan mengucapkan basmalah terlebih dahulu. Selain itu, menggunjing keburukan orang lain merupakan cerminan dari seringnya kita berprasangka buruk kepada Allah SWT.

Orang yang mau berdakwah juga harus memiliki ilmu, jika tidak justru akan menjadi bencana. Menasehati itu ada ilmunya, ilmu dasar ketika menasehati ialah harus melihat orang yang dinasehati itu itu lebih baik di mata Allah daripada dirinya. Misalnya ada pemabuk di tengah jalan. Bisa tidak kita menasehati tapi dalam hati dan pikiran kita, ini pemabuk merupakan calon wali. Jika susah, berarti kita masih merasa lebih baik dari orang lain. Padahal, benarkah kita lebih baik dari pemabuk itu? Kita hanya tahu punya dosa satu, yaitu mabuk. Sedangkan kita tahu jika selama hidup ini telah melakukan sangat banyak dosa. Artinya, kita sombong jika merasa lebih baik dari pemabuk tersebut. Sedangkan orang yang sombong tempatnya di neraka.


Dulu, Bisr al Hafi dan murid-muridnya berjalan di tepi pantai, mereka melihat sekelompok pemuda sedang bermain gitar sambil mabuk dan disampingnya ada perempuan. Melihat kejadian tersebut, murid meminta sang ulama untuk mendoakan sesuatu yang buruk kepada para pemuda. Menurut para santri, merekalah yang merusak bumi dan menurunkan bencana. Akan tetapi, Bisr Al Hafi justri berdoa, “Ya Allah, Engkau telah membahagiakan mereka di dunia ini. Maka tolong bahagiakan mereka di akherat”. Saat itu para santri protes, tetapi sang guru menjawab jika ia diperintahkan Allah untuk mengajak manusia dengan hikmah, dengan cara yang bijaksana dan nasehat yang baik. Apabila ia mendoakan kematian, berarti saya mendoakan makhluk Allah untuk masuk neraka karena wafaat su’ul khotimah. Efeknya, para pemuda yang mendengar doa tersebut insaf dan bertaubat.

Lain cerita, di Simo (Boyolali) ada seorang pemabuk bertato yang sekarat karena tersengat listrik tegangan tinggi. Masyarakat berteriak agar orang tersebut tidak ditolong. Akan tetapi, dokter yang kebetulan ada di situ tetap menolongnya. Ketika didekati dokter, pria bertato itu misuh-misuh (ngomong kotor). Setelah tau jika pria tersebut merupakan seorang muslim, dokter tersebut menyarankan untuk mengucapkan dzikir. Anehnya, sang pemabuk menurut dan terus mendzikirkan subhanalloh. Ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit, si pemabuk mengucapkan permintaan maaf kepada dokter dan masyarakat. Setelah itu, si pemabuk kembali mendzikirkan subhanalloh dan meninggal dunia. Artinya, orang yang dipandang jelek oleh masyarakat tersebut khusnul khotimah.

Oleh sebab itu, amar ma’ruf nahi munkar harus terus kita jalankan tetapi dalam hati kita jangan sampai ada rasa sombong dan merasa lebih baik. Karena sejatinya yang mengetahui jati diri manusia hanya Allah SWT. Bisa tidak kita seperti itu? Menurut Imam Ghazali, jika melihat anak yang muda usahakan di hati muncul rasa kagum karena mereka memiliki maksiat yang baru sedikit. Dia lebih baik dari saya. Jika ketemu orang yang lebih tua,    merasalah jika umurnya sudah panjang dalam ketaatan. Dia lebih baik dari saya. Jika ketemu orang yang maksiat, dia maksiatnya Cuma satu (yang terlihat secara dhohir) sedangkan saya tidak terkira. Berarti dia lebih baik dari saya. Jika ketemu nonmuslim, dia bisa meninggal dalam keadaan Islam tapi saya belum tentu meninggal khusnul khotimah. Artinya, bertemu siapapun selalu prasangka baik yang dikedepankan.

Dengan kata lain, yang pertama harus dihilangkan adalah prasangka buruk terhadap Allah SWT dan hamba-hamba-Nya. Siapapun yang bisa berprasangka baik terhadap Allah SWT, pasti ia bisa sabar dan syukur. Seperti ketika diobati dokter, kita akan nurut dengan seluruh tindakan dokter atas tubuh kita. Bahkan, kita berterimakasih dan membayar sang dokter. Yakinlah bahwa seperti apapun keadaan kita, Allah SWT memiliki rencana atas diri kita. Teruslah berprasangka baik terhadap apapun yang menimpa diri kita.
Mari kita intropeksi diri sendiri. Sudah baikkah diri kita? Mengapa kita masih sering menilai orang lain lebih buruk dari kita? Walaupun sebenarnya kita sadar jika masih banyak buruknya. Perasaan tersebut muncul karena adanya setan.

Untuk membuat hati bersih dari godaan syetan, kita harus ibadah. Ibadah inilah yang dapat membersihkan hati. Semua itu baik, dan yang terbaik dari semua ibadah adalah solat lima waktu. Ibadah ini hanya butuh waktu sekitar lima menit (tiap solat), tapi bisakah kita khusuk ketika sholat? Padahal nonton sinetron satu jam kita bisa khusuk. Bahkan, kita bisa marah jika ada yang mengganggu kekhusukkan kita dalam menonton sinetron. Sudahkah kita seperti itu ketika sholat? Bahkan, masih banyak orang yang asyik sms-an sebelum takbir sholat.

Ketika kita solat, sudahkah kita dadan? Kita masih sering menggunakan pakaian yang ‘seadanya’ untuk sholat. Padahal perintahnya jelas, pakailah pakaian yang terbaik setiap kita sholat. Bahkan, pakaian kita tidak sebaik saat kita akan memenuhi undangan orang yang sedang memiliki hajat (seperti pernikahan). Padahal yang ngundang kita sholat itu Allah, yang seharusnya lebih kita ‘hargai’ dari siapapun.

Artinya, kita masih sering menomorduakan sholat. Contoh lain, kebanyakan kita apakah rela menghentikan nonton sinetron yang sedang seru untuk bergegas sholat ketika adzan berkumandang? Itu untuk ibu-ibu. Untuk bapak-bapak, ketika adzan berkumandang dan ada transaksi uang, manakah yang lebih dipilih?
Selanjutnya, sedekah. Untuk bapak-bapak, sodakoh terbaik untuk suami adalah menafkahi istri. Sesuap nasi kepada istrimu lebih baik dibandingkan diberikan kepada siapapun. Inilah salah satu pandangan Islam yang meninggikan wanita. Dalam warisan, seolah-olah perempuan termarginalkan karena mendapat bagian  yang lebih sedikit. Padahal, bagian suami wajib untuk dinafkahkan kepada keluarganya dan bagian perempuan itu hanya untuk dirinya sendiri (tidak ada kewajiban untuk menafkahi).

Ucapan baik suami yang dapat menyenangkan istri juga sodakoh. Masalahnya sekarang banyak suami yang ketika bersama istrinya justru mengucapkan sesuatu yang tidak baik, dan sebaliknya. Inilah yang menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka perceraian di Jawa Tengah. 

Dulu pernah ada seorang komandan Kopassus yang bercerita kepada saya. Ia dimintai anak buahnya untuk menandatangani surat permohonan perceraian, di Kopassus untuk bercerai harus diizinkan pimpinannya. Sang komandan enggan memberi tanda tangan sebelum anak buahnya tersebut menjalankan pesannya, pasangan tersebut diminta solat berjamaah selama seminggu. Seminggu kemudian, anggota Kopassus tersebut menghadap komandannya dan tidak jadi menggugat cerai dan ingin terus bersama hingga ke surga.

Ini merupakan salah satu cermin, pada kenyataannya banyak di antara kita yang lebih sering berjamaah ketika nonton sinetron dan pertandingan bola. Sedangkan berjamaah ketika sholat, hadir di pengajian, tadarus Al-Qur’an bisa dihitung dihitung dengan jari. Artinya, kita lebih sering berjamaah untuk urusan dunia.
Termasuk sodakoh terbaik merupakan perkataan yang baik kepada istri. Untuk itu, bapak-bapak harus pandai berbohong untuk menyenangkan istri. Karena pada kenyataannya para istri senang ‘dibohongi’. Sebagai contoh, istri senang dipuji sebagai yang tercantik. Meskipun sebenarnya ia tahu bila itu bohong. Begitu juga suami, mereka senang dipuji oleh pasangannya meskipun pujian itu cukup berlebihan. Dalam rumah tangga diperlukan bumbu-bumbu seperti ini.

Dalam riwayat yang dhoif , Nabi SAW pernah bersabda (bil makna): dudukmu untuk menyenangkan pasanganmu lebih utama daripada i’tikaf di masjidku (Masjid Nabawi) selama satu tahun. Padahal kita tahu jika i’tikaf di masjid tersebut memiliki pahala yang sangat besar. Sayangnya, banyak orang yang lebih senang ngobrol dengan teman-temannya daripada dengan pasangannya.

Sedekah uang sudah sering dibahas, tapi sedekah terhadap pasangan hidupnya semacam ini masih jarang dibahas. Padahal ngomong yang baik kepada pasangannya itu adakalanya lebih baik daripada member uang. Sedekah ucapan yang baik itu lebih baik daripada menyedekahkan sesuatu tapi diikuti dengan kata-kata yang menyakiti.

Apabila diikuti 4 S tersebut (Sabar, Syukur, Sholat, dan Sodakoh) maka kita akan mendapatkan S yang terakhir, yaitu sukses. Demikian pesan Kapolda Jawa Tengah.

Jika melihat polisi kita masih sering melihat dengan pandangan yang buruk, padahal di awal tadi kita belajar untuk memandang orang lain secara positif. Jika tidak pakai helm dan ditilang kita marah, melanggar lampu merah ditilang kita marah. Jika seperti itu yang gendeng (tidak waras) siapa?

Habib Naufal mengaku mendapat pelajaran ketika beliau diundang ceramah ke Hongkong. Lampu merah di sana sangat dipatuhi, termasuk bagi pejalan kaki. Ternyata mereka di didik seperti itu sejak di sekolah. Selain karena didikan, pelanggar lampu merah di sana akan dikenai denda seribu dolar. Hasilnya, masyarakatnya tertib.

Mari bercermin kepada pekerjaan polisi. Di tengah panasnya matahari siang, mereka tetap setia mengatur jalan. Ironisnya, masih banyak yang misui (mengumpat). Jika masih seperti ini, berartui kita belum bisa menghargai jasa orang lain.

Pesan terakhir Habib Naufal untuk menyambut bulan Ramadhan dalam kesempatan ini, jangan cari kesalahan orang lain. Sibukkan diri kita untuk mengurusi dan memperbaiki kesalahan diri sendiri. Salah satu yang terpenting, perbaiki hubungan dengan orang tua kita. Manfaatkan waktu yang tersisa untuk melayani orang tua. Karena sebagian besar dari kita selama ini justru dilayani orang tua, terutama ketika puasa.

Dalam kesempatan ini Habib Naufal juga mengusulkan diadakannya Solo Bertakbir menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri. Rute yang ditawarkan habib dari Lapangan Kota Barat menuju Balai Kota, berjalan kaki sambil membawa obor dan iringan rebana.


Disampaikan Habib Naufal bin Muhammad Alaydrus di Mapolres Surakarta dalam rangka HUT Bhayangkara ke-67


Sumber MMN: http://www.muslimedianews.com/2013/10/rumus-5-s-bagian-2-habis.html#ixzz2qTW90NFt

Kamis, 02 Januari 2014

Asal Mula Alam Semesta ( Versi Islam)

Ilmu pengetahuan moderen, ilmu astronomi, baik yang berdasarkan pengamatan maupun berupa teori, dengan jelas menunjukkan bahwa pada suatu saat seluruh alam semesta masih berupa 'gumpalan asap' (yaitu komposisi gas yang sangat rapat dan tak tembus pandang, The First Three Minutes, a Modern View of the Origin of the Universe, Weinberg, hal. 94-105.). Hal ini merupakan sebuah prinsip yang tak diragukan lagi menurut standar astronomi moderen. Para ilmuwan sekarang dapat melihat pembentukan bintang-bintang baru dari peninggalan 'gumpalan asap' semacam itu (lihat gambar 10 dan 11)
Bintang-bintang yang berkilauan yang kita lihat di malam hari, sebagaimana seluruh alam semesta, dulunya berupa materi 'asap' semacam itu. Allah telah berfirman di dalam Al Qur'an:

ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ
Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap,... (Al Fushshiilat, 41: 11)

Karena bumi dan langit di atasnya (matahari, bulan, bintang, planet, galaksi dan lain-lain) terbentuk dari 'gumpalan asap' yang sama, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa matahari dan bumi dahulu merupakan satu kesatuan. Kemudian mereka berpisah dan terbentuk dari 'asap' yang homogen ini. Allah telah berfirman:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. (Al Anbiya, 21:30)

Dr. Alfred Kroner adalah salah satu ahli ilmu bumi terkemuka. Ia adalah Profesor geologi dan Kepala Departemen Geologi pada Institute of Geosciences, Johannes Gutenberg University, Mainz, Jerman. Ia berkata: "Jika menilik tempat asal Muhammad... Saya pikir sangat tidak mungkin jika ia bisa mengetahui sesuatu semisal asal mula alam semesta dari materi yang satu, karena para ilmuwan saja baru mengetahui hal ini dalam beberapa tahun yang lalu melalui berbagai cara yang rumit dan dengan teknologi mutakhir. Inilah kenyataannya." Ia juga berkata:

 "Seseorang yang tidak mengetahui apapun tentang fisika inti 14 abad yang lalu, menurut saya, tidak akan pernah bisa mengetahui, melalui pemikirannya sendiri, bahwa dulunya bumi dan langit berasal dari hal yang satu."

Sebuah bintang terbentuk dari gumpalan gas dan asap (nebula), yang merupakan peninggalan dari 'asap' yang menjadi asal kejadian alam semesta. 
 Gambar 10. Sebuah bintang terbentuk dari gumpalan gas dan asap (nebula), yang merupakan peninggalan dari 'asap' yang menjadi asal kejadian alam semesta. (The Space Atlas, Heather dan Henbest, hal. 50)

Nebula Laguna adalah sebuah gumpalan gas dan asap yang berdiameter sekitar 60 tahun cahaya. Ia dipendarkan oleh radiasi ultraviolet dari bintang panas yang baru saja terbentuk di dalam gumpalan tersebut.
Gambar 11. Nebula Laguna adalah sebuah gumpalan gas dan asap yang berdiameter sekitar 60 tahun cahaya. Ia dipendarkan oleh radiasi ultraviolet dari bintang panas yang baru saja terbentuk di dalam gumpalan tersebut. (Horizons, Exploring the Universe, Seeds, gambar 9, dari Association of Universities for Research in Astronomy, Inc.)

SUNAN GUNUNG JATI (Cerita Wali Songo)


1.       Asal Usul Sunan Gunung Jati

Dalam usia yang begitu muda Syarif Hidayatullah ditinggal mati oleh ayahnya. Ia ditunjuk untuk menggantikan kedudukannya sebagai Raja Mesir tapi anak yang masih berusia dua puluh tahun itu tidak mau. Dia dan ibunya bermaksud pulang ke tanah jawa berdakwah di Jawa Barat. Kedudukan ayahnya itu kemudian diberikan kepada adiknya yaitu Syarif Nurullah.

Sewaktu berada di negeri Mesir Syarif Hidayatullah berguru kepada beberapa ulam besar didaratan timur tengah. Dalam usia muda itu ilmunya sudah sangat banyak, maka ketika pulang ke tanah leluhurnya yaitu Jawa ia tidak merasa kesulitan melakukan dakwah.

2.       Perjuangan Sunan Gunung Jati

Sering kali terjadi kerancuan antara nama Fatahillah dengan Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati. Orang menganggap Fatahillah dan Syarif Hidayatullah adalah satu, tetapi yang benar adalah dua orang. Syarif Hidayatullah cucu Raja Pajajaran adalah seorang penyebar Islam di Jawa Barat yang kemudian disebut Sunan Gunung Jati. Sedangkan Fatahillah adalah seorang pemuda Pasai yang dikirim Sultan Trenggana membantu Sunan Gunung Jati berperang melawan Portugis. Bukti bahwa Fatahillah bukan Sunan Gunung Jati adalah makam dekat Sunan Gunung Jati yang ada tulisan Tubagus Pasai adalah Fathullah atau Fatahillah atau Faletehan menurut Lidah Orang Portugis......

Syarif Hidayatullah dan ibunya Syarifah Muda’im datang ke negeri Caruban Larang Jawa Barat pada tahun 1475 sesudah mampir dahulu di Gujarat dan Pasai untuk menambah pengalaman. Kedua orang itu disambut gembira oleh Pangeran Cakrabuana dan keluarganya. Syekh Datuk Kahfi sudah wafat, guru Pangeran Cakrabuana dan Syarifah Muda’im itu dimakamkan di Pasambangan. Dengan alasan agar selalu dekat dengan makam gurunya. Syarifah Muda’im minta diizinkan tinggal di Pasambangan atau Gunung Jati.

Syarifah Muda’im dan puteranya Syarif Hidayatullah meneruskan usaha Syekh Datuk Lahfi. Sehingga kemudian hari Syarif Hidayatullah terkenal sebagai Sunan Gunung Jati. Tibalah saat yang ditentukan, pangeran Cakrabuana menikahkan anaknya yaitu Nyi Pakungwati dengan Syarif Hidayatullah. Selanjutnya yaitu pada tahun 1479 karena usia lanjut pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaan negeri Caruban kepada Syarif Hidayatullah dengan gelar Susuhan yaitu orang yang dijunjung tinggi.

Disebutkan, pada tahun pertama pemerintahannya Syarif Hidayatullah berkunjung ke Pajajaran untuk mengunjungi kakeknya yaitu Prabu Siliwangi. Sang Prabu diajak masuk Islam kembali tetapi tidak mau. Meski Prabu Siliwangi tidak mau masuk Islam, dia tidak menghalangi cucunya menyiarkan agama Islam di wilayah Pajajaran.

Syarif Hidayatullah kemudian melanjutkan perjalanannya ke Serang. Penduduk Serang sudah ada yang masuk Islam dikarenakan banyaknya saudagar dari Arab dan Gujarat yang sering singgah ke tempat itu. Kedatangan Syarif Hidayatullah disambut baik oleh Adipati Banten. Bahkan Syarif Hidayatullah dijodohkan dengan puteri Adipati Banten yang bernama Nyi Kawungten. Dari perkawinannya inilah kemudian Syarif Hidayatullah dikaruniai dua orang putera yaitu Nyi Ratu Winaon dan Pangeran Sebakingking. Dalam menyebarkan agama Islam di tanah jawa, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati tidak bekerja sendirian, beliau sering bermusyawarah dengan anggota para wali  lainnya di mesjid Demak. Bahkan disebutkan beliau juga membantu berdirinya mesjid Demak.

Dari pergaulannya dengan Sultan Demak dan para wali lainnya ini akhirnya Syarif Hidayatullah mendirikan Kesultanan Pakungwati dan ia memploklamirkan diri sebagai raja yang pertama dengan gelar Sultan. Dengan berdirinya Kesultanan tersebut Cirebon tidak lagi mengirim upeti kepada Pajajaran yang biasanya disalurkan lewat Kadipaten Galuh.

Dengan bergabungnya prajurit dan perwira pilihan ke Cirebon maka makin bertambah besarlah pengaruh Kesultanan Pakungwati. Daerah-daerah lain seperti: Surakanta, Japura, Wanagiri, Telaga dan lain-lain menyatakan diri menjadi wilayah Keslutanan Cirebon. Lebih-lebih dengan diperluasnya Pelabuhan Muara Jati, makin bertambah besarlah Kasultanan Cirebon. Banyak pedagang besar dari negeri asing datang menjalin persahabatan. Diantaranya dari negeri Tiongkok. Salah seorang keluarga istana Cirebon kawin dengan pembesar dari negeri Cina yang berkunjung ke Cirebon yaitu Ma Huan. Maka jalinan antara Cirebon dan negeri Cina makin erat.

Bahkan Sunan Gunung Jati pernah diundang ke negeri Cina dan kawin dengan puteri Kaisar Cina bernama puteri Ong Tien. Kaisar Cina pada saat itu dari dinasti Ming juga beragama Islam. Dengan perkawinan itu sang Kaisar ingin menjalin erat hubungan baik antara Cirebon dan negeri Cina, hal ini ternyata menguntungkan bangsa Cina untuk dimanfaatkan dalam dunia perdagangan.

Sesudah kawin dengan Sunan Gunung Jati, puteri Ong Tien diganti namanya menjadi Nyi Ratu Rara Semanding. Kaisar ayah puteri Ong Tien ini membekali puterinya dengan harta benda yang tidak sedikit. Sebagian besar barang-barang peninggalan puteri Ong Tien yang dibawa dari negeri Cina itu sampai sekarang masih ada dan tersimpan di tempat yang aman. Istana dan Mesjid Cirebon kemudian dihiasi lagi dengan motif-motif hiasan dinding dari negeri Cina.

Mesjid Agung Sang Ciptarasa dibangun pada tahun 1980 atas prakarsa Nyi Ratu Pakungwati atau isteri Sunan Gunung Jati. Dari pembangunan mesjid itu melibatkan banyak pihak, diantaranya Wali Songo dan sejumlah tenaga ahli yang dikirim oleh Raden Patah. Dalam pembangunan itu Sunan Kalijaga mendapat penghormatan untuk mendirikan Soko Tatal sebagai lambang persatuan umat. Selesai membangun mesjid, diteruskan dengan membangun jalan raya yang menhubungkan Cirebon dengan daerah-daerah Kadipaten lainnya untuk memperluas pengembangan Islam diseluruh tanah pasundan. Prabu Siliwangi hanya bisa menahan diri atas perkembangan wilayah Cirebon yang semakin luas itu. Bahkan wilayah Pajajaran sendiri sudah semakin terhimpit.

Pathak Warak menyumpah-nyumpah, hatinya marah sekali diperlakukan seperti itu. Apalagi dilihatnya para tamu undangan menertawakan kekonyolan itu, diapun semakin malu. Hampir saja Roroyono ditamparnya kalau tidak ingat bahwa gadis itu adalah puteri gurunya.

Pada tahun 1511 Malaka diduduki oleh bangsa Portugis. Selanjutnya mereka ingin memperluas kekuasaannya ke pulau jawa. Pelabuhan sunda kelapa yang jadi incaran mereka untuk menancapkan kuku penjajahan. Demak Bintoro tahu bahaya besar yang mengancam kepulauan nusantara. Oleh karena itu Raden Patah mengirim adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor untuk menyerang Portugis di Malaka. Ada salah seorang pejuang Malaka yang ikut ke tanah jawa yaitu Fatahillah. Ia bermaksud meneruskan perjuangannya di tanah jawa. Dan dimasa Sultan Trenggana ia diangkat menjadi panglima perang.

Pengalaman adalah guru yang terbaik, dari pengalamannya bertempur di Malaka tahulah Fatahillah titik-titik lemah tentara dan siasat Portugis. Itu sebabnya dia dapat memberi komando dengan tepat dan setiap serangan Demak-Cirebon selalu membawa hasil gemilang. Akhirnya Portugis dan Pajajaran kalah, Portugis kembali ke Malaka, sedang tentara Pajajaran cerai berai tak menentuk arahnya.

Selanjutnya Fatahillah ditugaskan mengamankan Banten dari gangguan para pemberontak yaitu sisa-sisa pasukan Pajajaran. Usaha ini tidak menemui kesulitan karena Fatahillah dibantu putera Sunan Gunung Jati yang bernama Pangeran Sebakingking. Dikemudian hari Pangeran Sebakingking ini menjadi penguasa Banten dengan gelar Pangeran Hasanuddin.

Kurang lebih sekitar tahun 1479, Sunan Gunung Jati pergi ke daratan Cina dan tinggal didaerah Nan King. Di sana ia digelari dengan sebutan Maulana Insanul Kamil.

Daratan Cina sejak lama dikenal sebagai gudangnya ilmu pengobatan, maka disanalah Sunan Gunung Jati juga berdakwah dengan jalan memanfaatkan ilmu pengobatan. Beliau menguasai ilmu pengobatan tradisional. Disamping itu , pada setiap gerakan fisik dari ibadah Sholat sebenarnya merupakan gerakan ringan dari terapi pijat atau akupuntur, terutama bila seseorang mau mendirikan Sholat dengan baik, benar lengkap dengan amalan sunah dan tuma’ninahnya. Dengan mengajak masyarakat Cina agar tidak makan daging babi yang mengandung cacing pita, dan giat mendirikan sholat lima waktu, maka orang yang berobat kepada Sunan Gunung Jati banyak yang sembuh sehingga nama Gunung Jati menjadi terkenal di seluruh daratan Cina.

Di negeri naga itu Sunan Gunung Jati berkenalan dengan Jenderal Ceng Ho dan sekretaris kerajaan bernama Ma Huan, serta Feis Hsin, ketiga orang ini sudah masuk Islam. Pada suatu ketika Sunan Gunung Jati berkunjung ke hadapan kaisar Hong Gie, pengganti kaisar Yung Lo dengan puteri kaisar yang bernama Ong Tien. Menurut versi lain yang mirip sebuah legenda, sebenarnya kedatangan Sunan Gunung Jati di negeri Cina adalah karena tidak sengaja. Pada suatu malam, beliau hendak melaksanakan sholat tahajjud. Beliau hendak sholat di rumah tetapi tidak khusu’ lalu beliau sholat di mesjid, di mesjid juga belum khusu’. Beliau heran padahal bagi para wali, sholat tahajjud itu adalah kewajiban yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kemudian Sunan Gunung Jati sholat diatas perahu dengan khusu’. Bahkan dapat tidur dengan nyenyak setelah sholat dan berdo’a.

Ketika beliau terbangun beliau merasa kaget. Daratan pulau jawa tidak nampak lagi. Tanpa sepengetahuannya beliau telah dihanyutkan ombak hingga sampai ke negeri Cina. Di negeri Cina beliau membuka praktek pengobatan. Pendudu Cina yang berobat disuruhnya melaksanakan sholat. Setelah mengerjakan sholat mereka sembuh. Makin hari namanya makin terkenal, beliau dianggap sebagai sinshe yang berkepandaian tinggi terdengar oleh kaisar. Sunan Gunung Jati dipanggil keistana, kaisar hendak menguji kepandaian Sunan Gunung Jati sebagai tabib dia pasti dapat mengetahui mana seorang yang hamil muda atau belum hamil.

Dua orang puteri kaisar disuruh maju. Seorang diantara mereka sudah bersuami dan sedang hamil muda atau baru dua bulan. Sedang yang seorang lagi masih perawan namun perutnya diganjal dengan bantal sehingga nampak seperti orang hamil. Sementara yang benar-benar hamil perutnya masih kelihatan kecil sehingga nampak seperti orang yang belum hamil. Hai tabib asing, mana diantara puteriku yang hamil? Tanya kaisar.

Sunan Gunung Jati diam sejenak. Ia berdoa kepada Tuhan.

Hai orang asing mengapa kau diam? Cepat kau jawab! Teriak kaisar Cina.

Dia! Jawab Sunan Gunung Jati sembari menunjuk puteri Ong Tien yang masih Perawan. Kaisar tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban itu. Demikiann pula seluruh balairung istana kaisar.

Namun kemudian tawa mereka terhenti, karena puteri Ong Tien menjerit keras sembari memegangi perutya.

Ayah! Saya benar-benar hamil.

Maka gemparlah seisi istana. Ternyata bantal diperut Ong Tien telah lenyap entah kemana. Sementara perut puteri cantik itu benar-benar membesar seperti orang hamil.

Kaisar menjadi murka. Sunan Gunung Jati diusir dari daratan Cina. Sunan Gunung Jati menurut, hari itu juga ia pamit pulau ke pulau jawa. Namun puteri Ong Tien ternyata terlanjur jatuh cinta kepada Sunan Gunung Jati maka dia minta kepada ayahnya agar diperbolehkan menyusul Sunan Gunung Jati ke pulau Jawa.

Kaisar Hong Gie akhirnya mengijinkan puterinya menyusul Sunan Gunung Jati ke pulau Jawa. Puteri Ong Tien dibekali harta benda dan barang-barang berharga lainnya seperti bokor, guci emas dan permata. Puteri cantik itu dikawal oleh tiga orang pembesar kerajaan yaitu Pai Li bang seorang menteri negara. Lie Guan Chang dan Lie Guan Hien. Pai Li Bang adalah salah seorang murid Sunan Gunung Jati tatkala beliau berdakwah di Cina.

Dalam pelayarannya ke pulau jawa, mereka singgah di kadipaten Sriwijaya. Begitu mereka datang para penduduk menyambutnya dengan meriah sekali. Mereka merasa heran.

Ada apa ini? Pai Li Bang bertanya kepada tetua masyarakat Sriwijaya.

Tetua masyarakat balik bertanya. Siapa yang bernama Pai Li Bang?

Saya sendiri, jawab Pai Li Bang.

Kontan Pai Li Bang digotong penduduk diatas tandu. Dielu-elukan sebagai pemimpin besar. Dia dibawa ke istana Kadipaten Sriwijaya.

Setelah duduk dikursi Adipati, Pai Li Bang bertanya, sebenarnya apa yang terjadi?

Tetua masyarakat itu menerangkan. Bahwa adipati Ario Damar selaku pemegang kekuasaan Sriwijaya telah meninggal dunia. Penduduk merasa bingung mencari penggantinya, karena putera Ario Damar sudah menetap di Pulau Jawa. Yaitu Raden Fatah dan Raden Hasan.

Dalam kebingungan itulah muncul Sunan Gunung Jati, beliau berpesan bahwa sebentar lagi akan datang rombongan muridnya dari negeri Cina, namanya Pai Li Bang. Muridnya itulah yang pantas menjadi pengganti Ario Damar. Sebab muridnya itu adalah seorang menteri negara di negeri Cina.

Setelah berpesan begitu Sunan Gunung Jati meneruskan pelayarannya ke pulau jawa. Pai Li Bang memang muridnya. Dia semakin kagum dengan gurunya yang ternyata mengetahui sebelum kejadian, tahu kalau dia bakal menyusul ke pulau jawa. Pai Li Bang tidak menolak keinginan gurunya, dia bersedia menjadi adipati Sriwijaya. Dalam pemerintahannya Sriwijaya maju pesat sebagai kadipaten yang paling makmur dan aman. Setelah Pai Li Bang meninggal dunia maka nama kadipaten Sriwijaya diganti menjadi nama kadipaten Pai Li Bang, dalam perkembangannya karena proses pengucapan lidah orang Sriwijaya maka lama kelamaan kadipaten itu lebih dikenal dengan sebutan Palembang hingga sekarang.

Sementara itu puteri Ong Tien meneruskan pelayarannya hingga ke pulau jawa. Sampai di Cirebon dia mencari Sunan Gunung Jati, tapi Sunan Gunung Jati sedang berada di Luragung. Puteri itupun menyusulnya. Pernikahan antara puteri Ong Tien denga Sunan Gunung Jati terjadi pada tahun 1481, tapi sayang pada tahun 1485 puteri Ong Tien meninggal dunia. Maka jika anda berkunjung ke makam Sunan Gunung Jati di Cirebon jangan lah merasa heran disana banyak ornamen cina dan nuansa cina lainnya. Memang ornamen dan barang-barang antik itu berasal dari cina.

Wali songo selalu bermusyawarah apabila menghadapi suatu masalah pelik yang berkembang di masyarakat. Termasuk kebijakan dakwah yang mereka lakukan kepada masyarakat jawa.

Mula-mula sunan Ampel tidak setuju atas cara dakwah yang dilakukan Sunan Kalijaga danSunan Bonang. Namun Sunan Kudus mengajukan pedapatnya. Saya setuju dengan pendapatSunan Kalijaga, bahwa adat istiadat lama yang masih bisa diarahkan kepada agama tauhid maka kita akan memberikannya warna Islami. Sedang adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menjurus ke arah kemusyrikan kita tinggal sama sekali. Sebagai misal, gamelan dan wayang kulit, kita bisa memberinya warna Islam sesuai dengan selera masyarakat. Adapun tentang kekuatiran kanjeng Sunan Ampel, saya mempunyai keyakinan bahwa dibelakang hari akan ada orang yang menyempurnakannya.

Adanya dua pendapat yang seakan bertentangan tersbut sebanarnya mengandung hikmah. Pendapat Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus ada benarnya yaitu agar Islam cepat diterima oleh orang jawa, dan ini terbukti, dikarenakan dua wali tersebut pandai mengawinkan adat istiadat lama yang dapat ditolerir Islam maka penduduk jawa banyak yang berbondong-bondong masuk agama Islam. Pada prinsipnya mereka mau menerima Islam dengan lebih dahulu dan sedikit  demi sedikit kemudian mereka akan diberi pengertian akan kebersihan tauhid dalam iman mereka.

Sebaliknya, adanya pendapat Sunan Ampel yang menginginkan Islam harus disiarkan dengan murni dan konsekuen juga mengandung hikmah kebenaran yang hakiki, sehingga membuat umat semakin berhati-hari menjalankan syariat agama secara benar dan bersih dari segala macam bid’ah. Inilah jasa Sunan Ampel yang sangat besar, dengan peringatan inilah beliau telah menyelamatkan aqidah umat agar tidak tergelincitr ke lembah musyrik.

sumber: http://kisah-kisahwalisongo.blogspot.com/2012/01/sunan-gunung-jati.html

SUNAN MURIA (Cerita Wali Songo)


1.       Asal Usul Sunan Muria

Beliau adalah putera Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden Umar Said. Seperti ayahnya, dalam berdakwah beliau menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai mengeruhkan airnya. Itulah cara yang ditempuh untuk menyiarkan agama Islam di sekitar Gunung Muria.


Tempat tinggal beliau di gunung Muria yang salah satu puncaknya bernama Colo. Letaknya disebelah utara kota Kudus. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Beliau lah satu-satu wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan Islam. Dan beliau pula yang menciptakan tembang Sinom dan Kinanti.

2.       Sakti Mandraguna

Bahwa Sunan Muria itu adalah wali yang sakti, kuat fisiknya dapat dibuktikan dengan letak padepokannya yang terletak di atas gunung. Menuju ke makam Sunan Muria pun perlu tenaga ekstra karena berada diatas bukit yang tinggi.

Bayangkanlah, jika sunan Muria dan isterinya atau dengan muridnya setiap hari harus naik turun guna menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat, atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hal itu tidak dapat dilakukannya tanpa adanya fisik yang kuat. Soalnya menunggang kuda tidak mungkin dapat dilakukan untuk mencapai tempat tinggal Sunan Muria. Harus dengan jalan kaki. Itu berarti Sunan Muria memiliki kesaktian yang tinggi, demikian pula dengan murid-muridnya.

Bukti bahwa Sunan Muria  adalah guru yang sakti mandraguna dapat ditemukan dalam kisah perkawinan dengan Dewi Roroyono. Dewi Roroyono adalah puteri Sunan Ngerang, yaitu seorang ulama yang disegani masyarakat karena ketinggian ilmunya, tempat tinggalnya di Juana.

Demikian saktinya Sunan Ngerang ini sehingga Sunan Muria dan Sunan Kudus sampai-sampai berguru kepada beliau.

Pada suatu hari Sunan Ngerang mengadakan syukuran atas usia Dewi Roroyono yang genap 20 tahun. Murid-muridnya diundang semua. Seperti : Sunan Muria, Sunan Kudus, Adipati Pathak Warak, Kapa dan Adiknya Gentiri. Tetangga dekat jua diundang, demikian pula snak kadang yang dari jauh.

Setelah tamu berkumpul Dewi Roroyono dan adiknya Dewi Roro Pujiwati keluar menghidangkan makanan dan minuman. Keduanya adalah dara-dara yang cantik jelita. Terutama Dewi Roroyono yang telah berusia 20 tahun, bagaikan bunga yang sedang mekar-mekarnya.

Bagi Sunan Kudus dan Sunan Muria yang sudah berbekal ilmu agama dapat menahan pandangan matanya sehingga tidak terseret oleh godaan setan. Tapi seorang murid Sunan Ngerang yang lain yaitu Adipati Pathak Warak memandang Dewi Roroyono dengan mata tidak berkedip melihat kecantikan gadis itu.

Sewaktu menjadi cantrik atau murid Sunan Ngerang, yaitu ketika Pthak Warak belum menjadi seorang Adipati, Roroyono masih kecil, belum nampak benar kecantikannya yang mempesona, sekarang gadis itu benar-benar membuat Adipati Pathak Warak tergila-gila. Sepasang matanya hampir melotot memandangi gadis itu terus menerus.

Karena dibakar api asmara yang menggelora, Pathak Warak tidak tahan lagi. Dia menggoda Roroyono dengan ucapan-ucapan yang tidak pantas. Lebih-lebih setelah lelaki itu bertindak kurang ajar.

Tentu saja Roroyono merasa malu sekali, lebih-lebih ketiak lelaki itu berlaku kurang ajar dengan memegangi bagian-bagian tubuhnya yang tak pantas disentuh. Si gadis naik pitam, nampan berisi minuman yang dibawanya sengaja ditumpahkan ke pakaian sang adipati.

Pathak Warak menyumpah-nyumpah, hatinya marah sekali diperlakukan seperti itu. Apalagi dilihatnya para tamu undangan menertawakan kekonyolan itu, diapun semakin malu. Hampir saja Roroyono ditamparnya kalau tidak ingat bahwa gadis itu adalah puteri gurunya.

Roroyono masuk kedalam kamarnya, gadis itu menangis sejadi-jadinya karena dipermalukan oleh Pathak Warak.

Malam hari tamu-tamu dari dekat sudah pulang ketempatnya masing-masing. Tamu dari jauh terpaksa menginap di rumah Sunan Ngerang, termasuk Pathak Warak dan Sunan Muria. Namun hingga lewat tengah malam Pathak Warak belum dapat memejamkan matanya.

Pathak Warak kemudian bangkit dari tidurnya. Mengendap-ngendap ke kamar Roroyono. Gadis itu diserepnya sehingga tidak sadarkan diri, kemudian melalui genteng Pathak Warak masuk dan membawa lari gadis itu melalui jendela. Dewi Roroyono  dibaw alari ke Mandalika, wilayah Keling atau Kediri.

Setelah Sunan Ngerang mengetahui bahwa puterinya diculik oleh Pathak Warak, maka beliau berikrar siapa saja yang berhasil membawa puterinya kembali ke ngerang akan dijodohkan dengan puterinya itu dan bila perempuan akan dijadikan saudara Dewi Roroyono. Tak ada yang menyatakan kesanggupannya. Karena semua orang telah maklum akan kehebatan dan kekejaman Pathak Warak. Hanya Sunan Muria yang bersedia memnuhi harapan Sunan Ngerang.

Saya akan berusaha mengambil Diajeng Dewi Roroyono dari tangan Pathak Warak, kata Sunan Muria.

Tetapi ditengah perjalan Sunan Muria bertemu dengan Kapa dan Gentiri, adik seperguruan yang lebih dulu pulang sebelum acara syukuran berakhir. Kedua orang itu merasa heran melihat Sunan Muria berlari cepat menuju arah daerah Keling.

Mengapa kakang tampak tergesa-gesa? Tanya Kapa. Sunan Muria lalu menceritakan penculikan Dewi Roroyono yang dilakukan oleh Pathak Warak.

Kapa dan Gentiri sangat menghormati Sunan Muria sebagai saudara seperguruan yang lebih tua. Keduanya lantas menyatakan diri untuk membantu Sunan Muria merebut kembali Dewi Roroyono.

Kakang sebaiknya pulang ke Padepokan Gunung Muria. Murid-murid kakang sangat membutuhkan bimbingan. Biarlah kami berusaha merebut diajeng Dewi Roroyono kembali. Kalau berhasil kakang tetap berhak mengawininya, kami hanya sekedar membantu, kata kapa.

Aku masih sanggup untuk merebutnya sendiri, ujar Sunan Muria.

Itu benar, tapi membimbing orang memperdalam agama Islam lebih penting, percayalah pada kami. Kami pasti sanggup merebutnya kembali, kata kapa ngotot.

Sunan Muria akhirnya meluluskan permintaan adik seperguruannya itu. Rasanya tidak enak menolak seseorang yang hendak berbuat baik. Lagi pula ia harus menengok para santrinya di padepokan Gunung Muria.

Untuk merebut Dewi Roroyono dari tangan Pathak Warak, Kapa dan Gentiri ternyata minta bantuan seorang Wiku Lodhang Datuk di pulau Sprapat yang dikenal sebagai tokoh sakti yang jarang tandingannya. Usaha itu berhasil. Dewi Roroyono dikembalikan ke Ngerang.

Hari berikutnya Sunan Muria hendak ke Ngerang. Ingin mengetahui perkembangan usaha Kapa dan Gentiri. Ditengah jalan beliau bertemu dengan Adipati Pathak Warak.

Hai Pathak Warak berhenti kau, bentak Sunan Muria.

Pathak Warak yang sedang naik kuda terpaksa berhenti karena Sunan Muria menghadang didepannya.

Minggir!! Jangan menghalangi Jalanku, hardik Pathak Warak.

Boleh, asal kau kembalikan Dewi Roroyono !

Goblok!! Dewi Roroyono sudah dibawa Kapa dan Gentiri!! Kini aku hendak mengejar mereka!! Umpat Pathak Warak.

Untuk apa kau mengejar mereka?

Merebutnya kembali! Jawab Pathak Warak dengan sengit.

Kalau begitu langkahi dulu mayatku, Dewi Roroyono telah dijodohkan denganku, ujar Sunan Muria sambil pasang kuda-kuda.

Tanpa basa basi Pathak Warak melompat dari punggung kuda. Dia merangkak ke arah Sunan Muria dengan jurus-jurus cakar harimau. Tapi dia bukan tandingan putera Sunan Kalijaga yang memiliki segudang kesaktian.

Hanya dalam beberapa kali gebrakan, Pathak Warak telah jatuh atau roboh di tanah dalam keadaan fatal. Seluruh kesaktiannya lenyap dan ia menjadi lumpuh, tak mampu untuk bangkit berdiri apalagi berjalan.

Sunan Muria kemudian meneruskan perjalanan ke Juana. Kedatangannya disambut gembira oleh Sunan Ngerang. Karena Kapa dan entiri telah bercerita jujur bahwa mereka sendirilah yang memaksa mengambil alih tugas Sunan Muria mencari Dewi Roroyono, maka Sunan Ngerang pada akhirnya menjodohkan Dewi Roroyono dengan Sunan Muria. Upacara pernikahan pun segera dilaksanakan.

Kapa dan Gentiri yang berjasa besar itu diberi hadiah tanah di desa Buntar. Dengan hadiah itu keduanya sudah menjadi orang kaya yang hidupnya serba berkecukupan.

Sedang Sunan Muria memboyong isterinya ke Padepokan Gunung Muria. Mereka hidup Bahagia, karena merupakan pasangan yang ideal.

Tidak demikian halnya dengan Kapa dan Gentiri. Sewaktu membawa Dewi Roroyono dari keling ke Ngerang agaknya mereka terlanjur terpesona oleh kecantikan wanita jelita itu. Siang malam mereka tidak bisa tidur. Wajah wanita itu senantiasa terbayang. Namun karena wanita itu sudah diperisteri kakak seperguruannya mereka tak dapat berbuat apa-apa lagi. Hanya penyesalan yang menghujam didada. Mengapa mereka dulu terburu-buru menawarkan jasa baiknya. Betapa enaknya Sunan Muria, tanpa bersusah payah sekarang menikmati kebahagiaan bersama gadis yang mereka dambakan. Inilah hikmah ajaran agama agar lelaki diharuskan menahan pandangan matanya dan menjaga kehotmatan (kemaluan) mereka.

Andaikata Kapa dan Gentiri tidak memandang terus menerus kearah wajah dan tubuh Dewi Roroyono yang indah itu pasti mereka tidak akan terpesona dan tidak terjerat oleh iblis yang memasang perangkap pada pandangan mereka.

Kini Kapa dan Gentiri benar-benar telah dirasuki iblis. Mereka bertekad hendak merebut Dewi Roroyono dari tangan Sunan Muria. Mereka telah sepakat untuk menjadikan wanita itu sebagai isteri bersama secara bergiliran. Sungguh keji rencana mereka.

Gentiri berangkat lebih dahulu ke Gunung Muria. Namun ketika ia hendak melaksanakan niatnya dipergoki oleh murid Sunan Muria, terjadilah pertempuran dahsyat. Apalagi ketika Sunan Muria keluar menghadapi Gentiri, suasana menjadi semakin panas. Akhirnya gentiri tewas menemui ajalnya di puncak Gunung Muria.

Kematian Gentiri cepat tersebar ke berbagai daerah. Tapi tidak membuat surut niat Kapa. Kapa cukup cerdik. Dia datang ke gunung Muria secara diam-diam dimalam hari. Tak seorangpun yang mengetahuinya.
Kebetulan pada saat itu Sunan Muria dan beberapa murid pilihannya sedang bepergian ke Demak Bintoro. Kapa menyerep murid-murid Sunan Muria yang berilmu rendah, yang ditugaskan menjaga Dewi Roroyono. Kemudian yang dengan mudahnya Kapa menculik dan membawa wanita impiannya itu ke pulau sprapat.

Pada saat yang sama, sepulangnya dari Demak Bintoro. Sunan Muria bermaksud mengadakan kunjungan kepada Wiku Lodhang Datuk di pulau Sprapat. Ini biasanya dilakukannya bersahabat dengan pemeluk agama lain bukanlah suatu dosa. Terlebih sang Wiku itu pernah meneolongnya merebut Dewi Roroyono dari Pathak Warak.

Seperti ajaran Sunan Kalijaga yang mampu hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain dalam suatu negeri. Lalu ditunjukkan akhlak Islam yang mulia dan agung. Bukannya berdebat tentang perbedaan agama itu sendiri. Dengan menerapkan ajaran-ajaran akhlak yang mulia itu nyatanya banyak pemeluk agama lain yang pada akhirnya tertarik dan masuk Islam secara sukarela.

Ternyata, kedatangan Kapa ke pulau Sparapat itu tidak disambut baik oleh Wiku Lodhang Datuk.

Memalukan! Benar-benar nista perbuatanmu itu! Cepat kembalikan isteri kakang seperguruanmu sendiri itu! Hardik Wiku Lodhang Datuk dengan marah.

Bapa Guru ini bagaiman, bukakah aku ini muridmu? Mengapa tidak kau bela? Protes Kapa.

Sampai matipun aku takkan sudi membela kebejatan budi pekerti walau pelakunya itu muridku sendiri !

Perdebatan antara guru dengan murid itu berlangsung lama. Tanpa mereka sadari Sunan Muria sudah sampai ditempat itu. Betapa terkejutnya Sunan Muria melihat isterinya sedang tergolek ditanah dalam keadaan terikat kaki dan tangannya. Sementara Kapa dilihatnya sedang adu mulut dengan gurunya yaitu Wiku Lodhang Datuk.

Begitu mengetahui kedatangan Sunan Muria, Kapa Langsung melancarkan serangan dengan jurus-jurus maut. Wiku Lodhang Datuk menjauh, melangkah menuju Dewi Roroyono untuk membebaskan belenggu yang dilakukan Kapa.

Bersamaan dengan selesainya sang Wiku membuka tali yang mengikat tubuh Dewi Roroyono. Tiba-tiba terdengar jeritan keras dari mulut Kapa.

Ternyata serangan dengan pengerahan aji kesaktian yang dilakukan Kapa berbalik menghantam dirinya sendiri. Itulah ilmu yang dimiliki Sunan Muria. Mampu membalikkan serangan lawan.

Karena Kapa menggunakan aji pamungkas yaitu puncak kesaktian yang dimilikinya maka ilmu itu akhirnya merenggut nyawanya sendiri.

Maafkan saya tuan Wiku….,ujar Sunan Muria agak menyesal. Tidak mengapa. Menyesal aku turut memberikan ilmu kepadanya. Ternyata ilmu itu digunakan untuk jalan kejahatan, gumam Sang Wiku.

Bagaimanapun Kapa adalah muridnya, pantaslah kalau dia menguburkannya secara layak.

Pada akhirnya Dewi Roroyono dan Sunan Muria kembali ke Padepokan dan hidup bahagia.

sumber: http://kisah-kisahwalisongo.blogspot.com/2012/01/sunan-muria.html