Muslimedianews.com ~ 5 S yang dimaksud di sini merupakan Sabar, Syukur, Sholat, Sodakoh, dan Sukses. Kelima pesan ini menurut Habib Naufal bin Muhammad Alaydrus didapat dari Kapolda Jawa Tengah. Sebelum menguraikan tentang 5 S, habib bercerita tentang ulama besar, soleh, dan hebat yang ketika ditanya mengenai gurunya, ia menjawab jika gurunya adalah wangwung. Wangwung ini tidak bisa hidup dari kotoran, jika disemprot minyak wangi ia justru mati.
Ketika ulama tersebut berjalan menuju masjid, ia melihat wangwung yang sedang berjalan di kubah masjid. Wangwung tersebut berusaha jalan menuju kubah masjid, tetapi selalu jatuh meskipun ia mencoba hingga berkali-kali. Ketika iqomah, ulama itupun masuk menuju masjid. Setelah solat dan dzikir, ia kembali melihat ke arah kubah. Saat itu ulama tersebut emlihat wangwungnya sudah ada di puncak kubah. Akhirnya ulama ini berfikir, jika wangwung saja tidak mau menyerah, dia terus berusaha dan sabar untuk sampai ke puncak kubah. Mengapa saya tidak sabar dan gampang menyerah? Sejak itulah sang ulama tidak mengenal kata menyerah. Akhirnya, ia menjadi ulama yang luar biasa, ilmunya luar biasa, dan kesolehannya luar biasa.
Orang yang sabar merupakan orang yang menyadari jika yang dialami merupakan suatu tantangan yang tidak enak, tetapi ia sabar. Sebagai contoh, seorang istri yang sering diringgal suaminya dinas keluar kota dan ia tetap sabar.
Sabar merupakan derajat awal. Agar menjadi enak, ubahlah menjadi syukur. Jika ada orang yang kepalanya tertimpa batu bata dan mengucapkan Alhamdulillah, dialah orang yang syukur. Tetapi jika mengucapkan innalillah, dia masih sabar.
Masih ingat cerita tentang Mbah Mubarid? Ketika sedang naik sepeda beliau ditabrak sepeda motor. Mbah Mubarid dan orang yang menabraknya sama-sama jatuh. Mbah Mubarid bangun lebih dulu, kemudian memegang tangan orang yang menabraknya. Beliau bertanya, “le..koe mau mangkat seko omah niat nabrak aku opo ora?” (Nak, kamu tadi berangkat dari rumah niat menabrak saya atau tidak). Setelah yang ditabrak menjawab “mboten mbah” (tidak mbah), Mbah Mubarid mengatakan “podo, aku yo ra niat njaluk mbok tabrak” (Sama, saya juga tidak niat minta kamu tabrak). Selanjutnya, Mbah Mubarid mengangkat tangan anak muda yang menabraknya dan berucap “Alhamdulillah, yuk mulih” (Alhamdulillah, mari pulang).
Mbah Mubarid bisa ketabrak dan bisa mengucap Alhamdulillah, kira-kira seperti itu mudah atau susah?
Ibu-ibu misalnya, sebagai orang tua kaum ibu memiliki derajat yang lebih tinggi karena susahnya melebihi kaum bapak. Mereka mengalami tiga kesusahan setelah menikah, pertama ketika mengandung, kedua ketika melahirkan, dan ketiga ketika merawat-menyusui hingga usia anak mencapai dua tahun. Itu waktu susah-susah yang luar biasa. Makanya, ibu-ibu pasti susah jika tidak sabar.
Mbah Mubarid bisa ketabrak dan bisa mengucap Alhamdulillah, kira-kira seperti itu mudah atau susah?
Ibu-ibu misalnya, sebagai orang tua kaum ibu memiliki derajat yang lebih tinggi karena susahnya melebihi kaum bapak. Mereka mengalami tiga kesusahan setelah menikah, pertama ketika mengandung, kedua ketika melahirkan, dan ketiga ketika merawat-menyusui hingga usia anak mencapai dua tahun. Itu waktu susah-susah yang luar biasa. Makanya, ibu-ibu pasti susah jika tidak sabar.
Pakailah prinsip ini agar bisa sabar. Dalam sebuah hadis, Rosululloh Muhammad SAW bersabda: barangsiapa dalam urusan dunia melihat yang lebih susah, dalam urusan akherat melihat yang lebih hebat, maka dia akan menjadi orang yang sabar dan syukur. Barang siapa dalam urusan dunia melihat yang lebih sukses, dalam urusan akherat melihat yang lebih rusak, maka dia akan menjadi orang yang tidak akab bisa sabar dan syukur.
Dalam hidup ini harus ada sabar dan syukur, orang yang sabar pasti bisa syukur dan sebaliknya. Oleh karena itu, agar ibu-ibu bisa sabar menghadapi suami, anak, dan masyarakat pakailah pepatah Jawa. Meskipun pendek, tapi maknanya luar biasa. Orang Jawa berkata: seng waras ngalah (yang merasa waras ngalah).Bulan Ramadhan merupakan lahan yang luar biasa untuk latihan sabar tingkat tinggi. Sesuatu yang tadinya boleh di bulan Ramadhan jadi tidak boleh setelah masuk waktu subuh. Bisa tidak kita sabar? Dan sabar itu ukurannya bukan sikap kita terhadap lawan atau manusia yang lain, sabar itu urusan kita dengan Allah SWT.
Sabar itu bisanya untuk yang enak atau nggak enak? Biasanya sabar itu dikonotasikan dengan sesuatu yang tidak enak. Padahal ketika disuntik pak dokter, setelah sakit karena disuntik dan membayar kita masih mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Ibu-ibu ketika melahirkan sakit dan taruhannya nyawa, begitu bayi lahir ibu pasti ngucap ke dokternya “terima kasih”. Padahal udah dibedah perutnya (bagi yang sesar) dan membayar sejumlah uang.
Artinya, dalam dua contoh tersebut kita bisa syukur. Mengapa kita bisa begitu? Karena tahu apa yang dilakukan dokter itu demi kebaikan kita. Oleh sebab itu, pakailah dua contoh tersebut dalam semua kehidupan apabila ingin bersyukur. Dalam hidup ini Allah SWT sedang memproses kita untuk menjadi sosok yang super baik dan super hebat, masalahnya proses belum selesai banyak manusia yang protes dan menyalahkan Allah SWT. Proses belum selesai, manusia sudah merasa tidak puas. Ibarat dokter yang sedang mengoperasi dan si pasien justru memakinya karena telah menimbulkan luka.
Biji kopi itu tidak enak, yang enak itu wedang kopi (minuman kopi). Untuk menjadi minuman yang nikmat, kopi harus ditumbuk dan disiram air panas sehingga muncul aroma yang menggairahkan. Manusia juga begitu, kalau mau enak ya harus mengalami yang nggak enak dulu. Sayangnya, dalam hidup ini kita sering tidak sabar ketika mengalami sesuatu yang tidak enak karena tidak tahu akhirnya nanti seperti apa. Kita lebih sering melihat sesuatu yang sedang dialami sekarang.
Oleh sebab itu, untuk sabar kita harus berprasangka baik terhadap Allah yang maha kuasa. Apapun yang terjadi pada kita, merupakan kehendak Allah agar kita menjadi lebih baik. Jika kita percaya kepada Allah seperti itu, apapun yang terjadi kita akan menjadi lebih baik baik dan akan berterima kasih kepada Allah. Sebaliknya, jika dikit-dikit kita sudah protes, kita akan hidup tanpa syukur dan hidupnya akan susah.
Ditabrak motor, koma, uangnya diambil orang, dan cotoh-contoh lainnya itu baik atau buruk tergantung darimana kita memandangnya. Jika ingin semua itu hasilnya baik, maka berprasangka baiklah kepada Allah yang Maha Mengatur. Karena tidak ada satupun peristiwa yang terjadi karena izin Allah. Jika kita sudah bisa berprasangka baik kepada Allah, maka hasilnya akan menjadi baik.
Masalahnya, sebagian besar dari kita masih suka berprasangka buruk. Bahkan, kita sering menggunjing orang lain. Bahkan, kini muncul menggunjing gaya pengajian seperti “astaghfirulloh . . . ibu fulanah itu lo . . . .” Padahal itu termasuk menggunjing dan itu haram. Itu ibarat orang yang akan mencuri atau minum khamr dan mengucapkan basmalah terlebih dahulu. Selain itu, menggunjing keburukan orang lain merupakan cerminan dari seringnya kita berprasangka buruk kepada Allah SWT.
Orang yang mau berdakwah juga harus memiliki ilmu, jika tidak justru akan menjadi bencana. Menasehati itu ada ilmunya, ilmu dasar ketika menasehati ialah harus melihat orang yang dinasehati itu itu lebih baik di mata Allah daripada dirinya. Misalnya ada pemabuk di tengah jalan. Bisa tidak kita menasehati tapi dalam hati dan pikiran kita, ini pemabuk merupakan calon wali. Jika susah, berarti kita masih merasa lebih baik dari orang lain. Padahal, benarkah kita lebih baik dari pemabuk itu? Kita hanya tahu punya dosa satu, yaitu mabuk. Sedangkan kita tahu jika selama hidup ini telah melakukan sangat banyak dosa. Artinya, kita sombong jika merasa lebih baik dari pemabuk tersebut. Sedangkan orang yang sombong tempatnya di neraka.
Dulu, Bisr al Hafi dan murid-muridnya berjalan di tepi pantai, mereka melihat sekelompok pemuda sedang bermain gitar sambil mabuk dan disampingnya ada perempuan. Melihat kejadian tersebut, murid meminta sang ulama untuk mendoakan sesuatu yang buruk kepada para pemuda. Menurut para santri, merekalah yang merusak bumi dan menurunkan bencana. Akan tetapi, Bisr Al Hafi justri berdoa, “Ya Allah, Engkau telah membahagiakan mereka di dunia ini. Maka tolong bahagiakan mereka di akherat”. Saat itu para santri protes, tetapi sang guru menjawab jika ia diperintahkan Allah untuk mengajak manusia dengan hikmah, dengan cara yang bijaksana dan nasehat yang baik. Apabila ia mendoakan kematian, berarti saya mendoakan makhluk Allah untuk masuk neraka karena wafaat su’ul khotimah. Efeknya, para pemuda yang mendengar doa tersebut insaf dan bertaubat.
Lain cerita, di Simo (Boyolali) ada seorang pemabuk bertato yang sekarat karena tersengat listrik tegangan tinggi. Masyarakat berteriak agar orang tersebut tidak ditolong. Akan tetapi, dokter yang kebetulan ada di situ tetap menolongnya. Ketika didekati dokter, pria bertato itu misuh-misuh (ngomong kotor). Setelah tau jika pria tersebut merupakan seorang muslim, dokter tersebut menyarankan untuk mengucapkan dzikir. Anehnya, sang pemabuk menurut dan terus mendzikirkan subhanalloh. Ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit, si pemabuk mengucapkan permintaan maaf kepada dokter dan masyarakat. Setelah itu, si pemabuk kembali mendzikirkan subhanalloh dan meninggal dunia. Artinya, orang yang dipandang jelek oleh masyarakat tersebut khusnul khotimah.
Oleh sebab itu, amar ma’ruf nahi munkar harus terus kita jalankan tetapi dalam hati kita jangan sampai ada rasa sombong dan merasa lebih baik. Karena sejatinya yang mengetahui jati diri manusia hanya Allah SWT. Bisa tidak kita seperti itu? Menurut Imam Ghazali, jika melihat anak yang muda usahakan di hati muncul rasa kagum karena mereka memiliki maksiat yang baru sedikit. Dia lebih baik dari saya. Jika ketemu orang yang lebih tua, merasalah jika umurnya sudah panjang dalam ketaatan. Dia lebih baik dari saya. Jika ketemu orang yang maksiat, dia maksiatnya Cuma satu (yang terlihat secara dhohir) sedangkan saya tidak terkira. Berarti dia lebih baik dari saya. Jika ketemu nonmuslim, dia bisa meninggal dalam keadaan Islam tapi saya belum tentu meninggal khusnul khotimah. Artinya, bertemu siapapun selalu prasangka baik yang dikedepankan.
Dengan kata lain, yang pertama harus dihilangkan adalah prasangka buruk terhadap Allah SWT dan hamba-hamba-Nya. Siapapun yang bisa berprasangka baik terhadap Allah SWT, pasti ia bisa sabar dan syukur. Seperti ketika diobati dokter, kita akan nurut dengan seluruh tindakan dokter atas tubuh kita. Bahkan, kita berterimakasih dan membayar sang dokter. Yakinlah bahwa seperti apapun keadaan kita, Allah SWT memiliki rencana atas diri kita. Teruslah berprasangka baik terhadap apapun yang menimpa diri kita.
Mari kita intropeksi diri sendiri. Sudah baikkah diri kita? Mengapa kita masih sering menilai orang lain lebih buruk dari kita? Walaupun sebenarnya kita sadar jika masih banyak buruknya. Perasaan tersebut muncul karena adanya setan.
Untuk membuat hati bersih dari godaan syetan, kita harus ibadah. Ibadah inilah yang dapat membersihkan hati. Semua itu baik, dan yang terbaik dari semua ibadah adalah solat lima waktu. Ibadah ini hanya butuh waktu sekitar lima menit (tiap solat), tapi bisakah kita khusuk ketika sholat? Padahal nonton sinetron satu jam kita bisa khusuk. Bahkan, kita bisa marah jika ada yang mengganggu kekhusukkan kita dalam menonton sinetron. Sudahkah kita seperti itu ketika sholat? Bahkan, masih banyak orang yang asyik sms-an sebelum takbir sholat.
Ketika kita solat, sudahkah kita dadan? Kita masih sering menggunakan pakaian yang ‘seadanya’ untuk sholat. Padahal perintahnya jelas, pakailah pakaian yang terbaik setiap kita sholat. Bahkan, pakaian kita tidak sebaik saat kita akan memenuhi undangan orang yang sedang memiliki hajat (seperti pernikahan). Padahal yang ngundang kita sholat itu Allah, yang seharusnya lebih kita ‘hargai’ dari siapapun.
Artinya, kita masih sering menomorduakan sholat. Contoh lain, kebanyakan kita apakah rela menghentikan nonton sinetron yang sedang seru untuk bergegas sholat ketika adzan berkumandang? Itu untuk ibu-ibu. Untuk bapak-bapak, ketika adzan berkumandang dan ada transaksi uang, manakah yang lebih dipilih?
Selanjutnya, sedekah. Untuk bapak-bapak, sodakoh terbaik untuk suami adalah menafkahi istri. Sesuap nasi kepada istrimu lebih baik dibandingkan diberikan kepada siapapun. Inilah salah satu pandangan Islam yang meninggikan wanita. Dalam warisan, seolah-olah perempuan termarginalkan karena mendapat bagian yang lebih sedikit. Padahal, bagian suami wajib untuk dinafkahkan kepada keluarganya dan bagian perempuan itu hanya untuk dirinya sendiri (tidak ada kewajiban untuk menafkahi).
Ucapan baik suami yang dapat menyenangkan istri juga sodakoh. Masalahnya sekarang banyak suami yang ketika bersama istrinya justru mengucapkan sesuatu yang tidak baik, dan sebaliknya. Inilah yang menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka perceraian di Jawa Tengah.
Dulu pernah ada seorang komandan Kopassus yang bercerita kepada saya. Ia dimintai anak buahnya untuk menandatangani surat permohonan perceraian, di Kopassus untuk bercerai harus diizinkan pimpinannya. Sang komandan enggan memberi tanda tangan sebelum anak buahnya tersebut menjalankan pesannya, pasangan tersebut diminta solat berjamaah selama seminggu. Seminggu kemudian, anggota Kopassus tersebut menghadap komandannya dan tidak jadi menggugat cerai dan ingin terus bersama hingga ke surga.
Ini merupakan salah satu cermin, pada kenyataannya banyak di antara kita yang lebih sering berjamaah ketika nonton sinetron dan pertandingan bola. Sedangkan berjamaah ketika sholat, hadir di pengajian, tadarus Al-Qur’an bisa dihitung dihitung dengan jari. Artinya, kita lebih sering berjamaah untuk urusan dunia.
Termasuk sodakoh terbaik merupakan perkataan yang baik kepada istri. Untuk itu, bapak-bapak harus pandai berbohong untuk menyenangkan istri. Karena pada kenyataannya para istri senang ‘dibohongi’. Sebagai contoh, istri senang dipuji sebagai yang tercantik. Meskipun sebenarnya ia tahu bila itu bohong. Begitu juga suami, mereka senang dipuji oleh pasangannya meskipun pujian itu cukup berlebihan. Dalam rumah tangga diperlukan bumbu-bumbu seperti ini.
Dalam riwayat yang dhoif , Nabi SAW pernah bersabda (bil makna): dudukmu untuk menyenangkan pasanganmu lebih utama daripada i’tikaf di masjidku (Masjid Nabawi) selama satu tahun. Padahal kita tahu jika i’tikaf di masjid tersebut memiliki pahala yang sangat besar. Sayangnya, banyak orang yang lebih senang ngobrol dengan teman-temannya daripada dengan pasangannya.
Sedekah uang sudah sering dibahas, tapi sedekah terhadap pasangan hidupnya semacam ini masih jarang dibahas. Padahal ngomong yang baik kepada pasangannya itu adakalanya lebih baik daripada member uang. Sedekah ucapan yang baik itu lebih baik daripada menyedekahkan sesuatu tapi diikuti dengan kata-kata yang menyakiti.
Apabila diikuti 4 S tersebut (Sabar, Syukur, Sholat, dan Sodakoh) maka kita akan mendapatkan S yang terakhir, yaitu sukses. Demikian pesan Kapolda Jawa Tengah.
Jika melihat polisi kita masih sering melihat dengan pandangan yang buruk, padahal di awal tadi kita belajar untuk memandang orang lain secara positif. Jika tidak pakai helm dan ditilang kita marah, melanggar lampu merah ditilang kita marah. Jika seperti itu yang gendeng (tidak waras) siapa?
Habib Naufal mengaku mendapat pelajaran ketika beliau diundang ceramah ke Hongkong. Lampu merah di sana sangat dipatuhi, termasuk bagi pejalan kaki. Ternyata mereka di didik seperti itu sejak di sekolah. Selain karena didikan, pelanggar lampu merah di sana akan dikenai denda seribu dolar. Hasilnya, masyarakatnya tertib.
Mari bercermin kepada pekerjaan polisi. Di tengah panasnya matahari siang, mereka tetap setia mengatur jalan. Ironisnya, masih banyak yang misui (mengumpat). Jika masih seperti ini, berartui kita belum bisa menghargai jasa orang lain.
Pesan terakhir Habib Naufal untuk menyambut bulan Ramadhan dalam kesempatan ini, jangan cari kesalahan orang lain. Sibukkan diri kita untuk mengurusi dan memperbaiki kesalahan diri sendiri. Salah satu yang terpenting, perbaiki hubungan dengan orang tua kita. Manfaatkan waktu yang tersisa untuk melayani orang tua. Karena sebagian besar dari kita selama ini justru dilayani orang tua, terutama ketika puasa.
Dalam kesempatan ini Habib Naufal juga mengusulkan diadakannya Solo Bertakbir menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri. Rute yang ditawarkan habib dari Lapangan Kota Barat menuju Balai Kota, berjalan kaki sambil membawa obor dan iringan rebana.
Disampaikan Habib Naufal bin Muhammad Alaydrus di Mapolres Surakarta dalam rangka HUT Bhayangkara ke-67
Sumber MMN: http://www.muslimedianews.com/2013/10/rumus-5-s-bagian-2-habis.html#ixzz2qTW90NFt
